Melirik keadaan di tahun sebelumnya, Kira-kira di tahun 1990-an, 2000-an awal, kalau orang Dompu sakit parah, ambulans harus ngebut 5 jam ke Mataram. Kalau tidak kuat di jalan, selesai.Bukan karena tidak ada rumah sakit. Tapi karena tenaga dokternya masih sangat kurang (langka) dan juga dokter Putra daerah yang masing sangat kurang.
Anak Dompu yang pintar, cita-citanya jadi pegawai, jadi polisi. Jadi dokter? Pada kurun waktu sekian, itu mimpi yang terlalu tinggi.
Menurut pendapat kebanyakan anak Dompu kalau itu, sekolah kedokteran mahal, jauh, dan katanya "bukan untuk anak kampung.
Jadi kalau ada yang sakit pada saat itu, yang periksa bukan Putra daerah. Anak Dompu hanya bisa berharap kedepannya keadaan bisa berubah. Dan berharap itu melelahkan.
Tapi di rumah-rumah gedek, di bawah lampu tempel, ada anak-anak yang gambar jas putih di buku tulisnya.
Mereka belajar bukan pakai AC. Pakai pelita. Bukan pakai bimbel mahal. Pakai hafalan doa ibu.
Ibu mereka bilang: "Sekolah yang tinggi nak, biar nanti orang Dompu tidak perlu jauh-jauh berobat. Biar kamu yang obati nenekmu sendiri."
Kalimat itu yang mengunci. Bukan karena ingin kaya. Tapi karena ingin pulang dan berguna.
Ini janji kecil anak Dompu kala itu yang ingin tumbuh memberikan manfaat: janji kecil di lampu tempel yang ditepati 15 tahun kemudian.
Lihat keadaan sekarang, di tahun 2026. Di RSUD Dompu, di Puskesmas Kempo, Manggelewa, Hu'u, yang pakai stetoskop itu bukan lagi orang jauh. Itu anaknya Pak Haji di sebelah rumah. Itu anaknya guru SD kita dulu. Itu si Andi, si Sari, si Nurul yang dulu sama-sama main kelereng di lapangan.
Dulu kita cari 1 dokter putra daerah saja susah setengah mati. Sekarang kita punya puluhan. Dokter umum, dokter gigi, bahkan dokter spesialis putra Dompu mulai pulang satu-satu.
Mereka tidak pulang karena tidak laku di kota besar. Mereka pulang karena mereka ingat: Dompu Rumahku Untuk Tumbuh.
Rasa percaya diri sebagai putra daerah mulai tumbuh dan sebagai bagian dari kemajuan, dulu daerah dengan minim putra daerah sebagai dokter, saat ini mereka yang pegang peran. Satu kebanggaan yang membuat hormon bahagia kita orang Dompu tumbuh.
Dalam fasilitas pelayanan kesehatan yang ada di Dompu seorang dokter muda Dompu jongkok, memegang tangan nenek di kampungnya sendiri. Tidak di ruang VIP. Di tanah berdebu, di depan rumah panggung.
Dia tidak sedang mengobati pasien. Dia sedang menepati janji masa kecilnya. Dulu nenek itu yang doakan dia jadi dokter. Kini dia yang jaga jantung nenek itu tetap berdetak.
Inilah cerita Dompu yang sesungguhnya.
Dulu kita kekurangan dokter. Kini ketika harapan tergenggam dalam tangan semuanya bisa berubah.
Karena ketika satu anak Dompu jadi dokter, dia tidak hanya sembuhkan satu orang. Dia sembuhkan rasa minder satu kampung. Dia buktikan ke adik-adiknya di SD: "Kamu juga bisa."
Penulis: Firmansyah, S. Psi., M. MKes. Pengamat Sosial dan Tumbuh Kembang Anak Remaja Remaja