Peristiwa Donggo 22 Juni 1972 bukan demo biasa. Ini adalah gerakan politik rakyat Donggo menuntut keadilan yang dimotori oleh lima tokoh cerdas yang saat itu disebut pemerintah Orde Baru sebagai "Gembong Peristiwa" dan ditahan dengan tuduhan Makar.Foto sampul ini adalah foto sidang 5 tokoh tersebut di pengadilan era Orde Baru, didampingi 2 pengacara di kiri kanan.
1. H. ABBAS H. OYA, BA - Otak Politik
Lulusan ilmu pemerintahan di Jakarta. Teman politik Ali Sadikin, Adnan Buyung Nasution SH. Yang mendesain strategi ke DPR-RI pusat. Beliau desainer politik Donggo di Jakarta, sekaligus kurir intelektual akademis Donggo di Jakarta. Bolak balik pakai kapal laut Jakarta-Bima, saat itu tidak secanggih ini transportasi maupun alat komunikasi
2. H. M. ALI TA'AMIN - Juru Bicara Rakyat
Lulusan SR (Sekolah Rakyat). Orator paling berani yang menggerakkan massa dari Kala, Mbawa, Rora, Mpili, Bumi Pajo, Wadukopa, punti, Kananta, Sai, Sampungu Kecamatan Donggo, hingga warga Donggo yang ada Kabupaten Dompu Oo, manggenae, Buna, sori Utu, Kambu, Kiwu dll
3. Djamaluddin H Yasin, hanya sekolah SR (Sekolah Rakyat), dikenal sebagai orator ulung. Menggetarkan massa dengan suara lantang berapi-api membakar semangat jiwa massa Donggo untuk berjihad di jalan yang haq.
4. H Kako, alias H M Ali alias abu Nuru alias abu Wia, dijuluki Panglima, sebagai tokoh tertua, diantara lima tokoh, "Spesifik spritual Makrifat". Tidak pernah sekolah, mengenal bahasa Indonesia lonca-loncat karena adaptasi di tahanan, dijuluki Panglima peristiwa Donggo, sebagai eksekutor dilapangan. Warga yang bersatu turun long march akan dihukum adat, dia berada dibarisan belakang dengan gaya khas Donggo membawa tombak dan parang panjang "cila lapi Nono Ra'a".
5. KH Abdul Madjid Bakri ( Abu Tua alias Abu Jenggot, red ) hanya sekolah Kitab (Al Qur'an) utusan Sultan Salahuddin keluar daerah. Dengan modal itu, mampu menumpas semua yang berbauh sirik, tahalul (animisme dan dinamisme) di Donggo. Peranan diperistiwa itu sebagai spesifik spritual Syari'at Islam.
Mengapa Rela Dipenjara Makar?
Karena membela Jene Teke Abdul Kahir / Putra Kahir II yang:
- Bijak, Nggahi Rawi Pahu
- Tidak korupsi, uang pajak tidak disetor ke pusat tapi bangun rumah dinas rakyat
- Menyerahkan aset cagar budaya ke Asi Mbojo / Museum
- Tidak menzolimi rakyat
Karena mereka menurunkan Letkol Inf. Soehardjo dari Bupati Bima dan menuntut Putra Kahir II yang saat itu masih anggota DPR-RI diangkat jadi Bupati.
Tapi pusat tidak langsung angkat Putra Kahir, masih drop ABRI: M. Tohir, Letkol Inf. H. Oemar Haroen http://B.Sc, Letkol Inf. Halim Djafar, Letkol Inf. Adi Hariyanto. Baru era Reformasi putra daerah pertama muncul: Drs. H. Zainul Arifin, Ferry Zulkarnain, Drs. H. Syafruddin H. M. Nor, Hj. Indah Damayanti Putri.
Demikianlah sejarah Donggo ini saya luruskan. Kalau ada yang salah, saya mohon koreksi. Saya bukan ahli sejarah, saya hanya mencatat apa yang diceritakan orang tua agar tidak hilang.
Terima kasih. Sudah jadi satu buku utuh dari cover sampai tulisan belum berakhir.
Penulis: Drs. H. Mustahid H. Kako, MM