Fenomena hari ini menarik. Gibran Rakabuming Raka, Wakil Presiden termuda, sedang dikeroyok dari "tiga matra".
Serangan Darat: Dari pengamat politik. Isunya soal kapasitas, etika pencalonan, sampai komunikasi publik yang dianggap belum selevel Wapres. Setiap blunder kecil dibesarkan jadi isu nasional.
Serangan Laut: Dari pakar hukum dan tata negara. Gelombangnya soal ijazah, soal proses di MK dulu, soal keabsahan pencalonan. Isunya pasang surut, tapi terus menghantam.
Serangan Udara: Dari politisi Senayan. Manuver paling tinggi. Dari wacana pemakzulan sampai hak angket. Serangan udara ini yang paling berbahaya karena punya rudal politik.
Pertanyaannya: Kemana para loyalis Jokowi?
Dulu parpol-parpol itu pasang badan untuk Jokowi. Sekarang ketika anaknya diserang, banyak yang diam, bahkan ikut menembak.
Jawabannya bukan soal cinta dan benci. Ini soal matematika kekuasaan.
1. Jokowi sudah tidak pegang istana. Loyalitas dalam politik Indonesia itu loyalitas "semu' pada kursi, bukan pada orang. Kursi menteri itu oksigen parpol. Oksigen itu sekarang ada di tangan Presiden Prabowo, bukan lagi di tangan Jokowi.
2. Takut Kehilangan Kursi Menteri. Ini hukum alam koalisi. Kalau mereka terlalu vokal bela Gibran saat Gibran diserang parlemen, mereka berhadapan dengan parlemen itu sendiri. Dan parlemen bisa ganggu menteri mereka. Jadi lebih aman main dua kaki: di kabinet tetap setia, di parlemen ikut kritis.
3. Gibran bukan Jokowi. Jokowi punya akar relawan dan prestasi elektoral. Gibran masih dianggap sebagai "perpanjangan" bukan "kekuatan sendiri". Jadi parpol loyalis dulu merasa hutang politiknya sudah lunas ke Jokowi, tidak otomatis transfer ke Gibran.
Kesimpulan opini saya:
Yang terjadi pada Gibran ini bukan sekadar serangan personal, ini tes kekuatan transisi.
Apakah kekuatan Jokowi masih bisa melindungi trah politiknya setelah tidak lagi jadi presiden? Atau memang politik Indonesia sedang masuk bab baru di mana semua orang harus bangun kerajaan sendiri-sendiri?
Kalau Gibran bisa lolos dari kepungan darat, laut, udara ini selama 1-2 tahun ke depan tanpa harus ditolong Jokowi, maka dia akan jadi pemain utama 2029. Tapi kalau dia tumbang di tengah jalan, maka itu bukti bahwa parpol kita memang tidak pernah loyal pada orang, hanya loyal pada kekuasaan yang sedang duduk.
Itulah politik. Kata tokoh Donggo Jakarta Dr. H Ghazaly Ana La Nora, 20 tahun silam Tidak ada kawan abadi, yang ada hanya kursi abadi. Wallahu alam, kebenaran milik Allah
