Ketua Program Studi PGSD, Rizalul Fiqry Tutup Kuliah Umum Mahasiswa Baru STKIP Tamsis Bima

DONGGOVOICE.com I Bima, 131026 - Mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Taman Siswa Bima diajak mengubah pola pikir, kebiasaan, dan tanggung jawab dari siswa menjadi mahasiswa merdeka. Ajakan itu disampaikan dalam Kuliah Umum Berseri Sesi 1 secara daring melalui Zoom, Senin (12/10/2026).

Kegiatan bertema “Bukan Lagi Siswa: Naik Level Jadi Mahasiswa Merdeka” itu diikuti sekitar 120 mahasiswa semester I dari kampus induk dan kampus kota. Narasumbernya adalah dosen tetap STKIP Taman Siswa Bima, Ady Irawan, SH., MH., yang pernah menjabat Ketua Program Studi PGSD dan Kepala Bagian Hukum kampus tersebut. Acara dipandu Sekretaris Program Studi PGSD Syahriani Yulianci, M.Pd.

Dalam pemaparannya, Ady (sapaan) menyebut perbedaan utama siswa dan mahasiswa terletak pada inisiatif. Siswa banyak diarahkan guru, sedangkan mahasiswa dituntut mandiri, aktif mencari dan mengolah informasi, serta fokus pada proses pengembangan diri. Dosen, katanya, berperan sebagai “pemicu” yang memancing mahasiswa berpikir kritis.

Ady menegaskan, merdeka tidak sama dengan kebablasan. Ia mencontohkan mahasiswa yang jauh dari orang tua, tetapi tidak mampu mengendalikan pergaulan dan akhirnya gagal kuliah. Menurut dia, mahasiswa merdeka mampu mengatur diri dan tetap belajar meski tidak diawasi.

Ia juga mengajak mahasiswa membangun budaya akademik, antara lain dengan memilih lingkungan dan teman yang menjaga nuansa akademik, cukup tiga sampai lima orang. Unsur lingkungan akademik yang sehat, menurut Ady, mencakup etika berkomunikasi, kejujuran akademik, disiplin, gemar membaca dan bertanya, serta keterbukaan terhadap perbedaan.

Untuk memperjelas, Ady menyodorkan studi kasus tugas kelompok pada perkuliahan dengan tiga pilihan: satu orang mengerjakan semua, pembagian tugas jelas dengan semua berkontribusi, atau menyalin tanpa mencantumkan sumber. Pilihan ideal mayoritas adalah pada item yang kedua. Mahasiswa, kata Ady, perlu tegas membagi tugas kuliah dan menetapkan tenggat, misalnya dua hari sebelum pengumpulan.

Soal teknologi, Ady mengingatkan bahwa kecerdasan buatan (AI) hanyalah alat bantu, bukan pengganti berpikir. “Manusia yang mengendalikan AI, bukan sebaliknya,” ujarnya.

Pada bagian manajemen waktu, mahasiswa diminta menyusun jadwal mingguan dan mengenali “pencuri waktu”, seperti media sosial, menonton berlebihan, dan game daring. Adapun dalam berpikir kritis, Ady mengaitkannya dengan profesi guru sekolah dasar. Guru, katanya, tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa anak yang bernilai rendah pasti malas, tetapi harus menelusuri penyebabnya lebih dahulu.

Sejumlah mahasiswa menyampaikan tanggapan. Ada yang menargetkan indeks prestasi kumulatif minimal 3,5 tiap semester, lulus dalam empat tahun, dan aktif di organisasi non-akademik. Juga ada yang mengaku akan melakukan penelitian penyebab rendahnya nilai siswa, seperti masalah di rumah, perundungan, atau kesulitan memahami materi, lalu memberi pendampingan khusus.

Dalam sesi tanya jawab, mahasiswa menanyakan perbedaan utama siswa dan mahasiswa. Dan, juga menyinggung, bagaiamana masa depan profesi guru di tengah perkembangan AI dan pembelajaran daring. Merespon pertanyaan tersebut, Ady menilai profesi guru sulit digantikan AI. Karena guru memiliki hati dan perasaan serta menjadi teladan, inspirator, dan motivator. Kebutuhan guru juga akan terus ada karena banyak guru yang pensiun.

Di akhir kegiatan, Ady memberi tugas tindak lanjut kepada seluruh peserta berupa rencana tujuh hari ke depan yang berisi tiga kebiasaan baru menuju mahasiswa merdeka. Tugas itu wajib ditulis tangan dan dikumpulkan kepada dosen mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan.

Ady menutup pemaparan dengan menekankan empat bekal mahasiswa merdeka, yakni integritas, kemandirian, berpikir kritis, dan pengelolaan waktu. “Menjadi guru yang baik dimulai dari menjadi pembelajar yang baik,” katanya.

Kegiatan ditutup Ketua Program Studi PGSD Rizalul Fiqry, yang mengingatkan bahwa perkuliahan tidak terbatas di ruang kelas dan mahasiswa perlu aktif mengikuti kegiatan seperti ini. ( Team )

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama