Saya sebagai penulis bukan ahli sejarah, tapi sebagai wartawan masih menyimpan data saat di Lombok Post bebagai sumber akurat yang diwawancara saat itu seperti Budayawan Massie, sejarawan Drs. Hilir, saya mengkolaborasikan data dengan sumber dari Donggo yakni orang tua saya H. Kako/salah satu gembong peristiwa Donggo 1972, H Yasin/mantan gelarang/kades Kala (usia lebih dari 100 meninggal dunia) orang tuanya Djamaluddin H Yasin/gembong peristiwa Donggo 1972, H M Tahir/mantan Ncuhi Kala dll. Tulisan ini akan
menyentuh akar sejarah paling dalam. Ini data riilnya, saya bedah satu-satu sesuai data :
Oleh: Drs. H. Mustahid, H. Kako, MM
1. NCUHI KALA - APAKAH ITU KERAJAAN PERTAMA BIMA?
BETUL.
Sebelum ada istilah Kerajaan Bima, pulau Sumbawa diperintah oleh kepala suku yang disebut Ncuhi. Pulau terbagi 5 wilayah Ncuhi: selatan, barat, utara, timur, dan tengah. Ncuhi terkuat adalah Ncuhi Dara
Fase ini disebut Fase Ncuhi (1000/500 SM - 709 M). Pemimpin wilayah dikenal gelar Ncuhi dari kata _Ncuri_ = pucuk, merangkap kepala adat dan pemuka agama
Struktur Ncuhi mulai berubah ketika Indra Zamrud anak Sang Bima diangkat menjadi Raja Bima pertama. Dengan persetujuan semua ncuhi, menjadi Sangaji pertama. Dengan demikian berakhirlah jaman ncuhi. Masyarakat Mbojo memasuki jaman baru, yaitu jaman kerajaan.
Ncuhi Kala adalah salah satu dari Ncuhi awal itu. Tanah Babuju di Desa Kala sekarang pun dulu dijadikan tempat dilantik dan disumpahnya para ncuhi (kepala wilayah atau raja-raja) di daerah Bima. Jadi Kala itu bukan desa biasa, itu pusat pelantikan Ncuhi.
Kenapa Ncuhi seakan disepelekan setelah lahir istilah kerajaan?.
Karena setelah Indra Zamrud, pimpinan bukan lagi Ncuhi tapi Sangaji/Raja. Dou Mbojo yang enggan membaur dengan pendatang Makassar/Bugis, terdesak ke daerah Donggo atau pegunungan. Oleh sebab itu mereka disebut Dou Donggo. Jadi Donggo adalah pewaris asli darah Ncuhi yang tidak mau tunduk pada sistem baru.
2. KENAPA DONGGO SUSAH DITAKLUKKAN & TELAT ISLAM ?
a) Kepercayaan Asli:
Kepercayaan asli orang Donggo adalah animisme yang mereka sebut Parafu/Marafu. Tapi tetap konsep Tuhan Esa, disebut Parafu ro Waro (kekuatan alam + roh leluhur)
Kepercayaan asli Dou Mbojo adalah Makakamba-Makakimbi, sejenis animisme, mediatornya Ncuhi Ro Naka. Secara substantif tidak berbeda dengan Marafu Donggo.
b) Geografis:
Suku Donggo bermukim di pegunungan dan dataran tinggi di sebelah barat dan tenggara teluk Bima. Dou Donggo Ipa/Donggo Di termasuk Soromandi/pemekaran Dou Donggo Ele di Wawo, Lambitu/pemekaran. Rumah mereka berpindah-pindah karena sistem ladang berpindah. Tidak ada jalan setapak kecuali gunung, kalau mau ke kota harus sampan kecil muat 2-3 orang dari desa Bajo Soromandi
Baju mereka serba hitam tenunan asli Donggo "Baju Kababu" untuk wanita dan Deko "Kafai Kale" untuk pria, itu ciri khas Dou Donggo.
c) Baru Islam Abad 17:
Donggo baru bisa ditaklukkan dengan aqidah Islam sekitar abad 17. Memang Kesultanan Bima resmi Islam 1621 di bawah Sultan Abdul Kahir I. Pengaruh Islam membuat aset berbau animisme dimusnahkan. Nama KH Abdul Madjid Bakri sebagai mubalig utusan Raja Bima yang Ayahanda sebut itu klop dengan data: mubalig dari Kesultanan yang dikirim ke pedalaman Donggo.
3. PERANG KALA 1908-1909 - DATA RIIL
Ini sangat akurat:
Perang Kala itu satu rangkaian dengan Perang Ngali dan Dena. Semua karena Lange Contract (Kontrak Panjang) Belanda dan pajak Belasting (pajak kepala, pajak tanah, pajak hewan).
"Perjanjian Lange Contract tersebut membuat kemarahan rakyat meluap. Kemarahan itu diwujudkan dengan adanya perlawanan rakyat Bima yang menjalar di tiga tempat, yaitu perang Ngali, Dena dan Kala"
Masyarakat Donggo Barat sering diidentikkan dengan kesaktian, kekerasan, dan keteguhan sebagai akibat sejarah melawan penjajah Belanda (misalnya, dalam Perang Kala tahun 1909 dan Perang Mbawa tahun 1910) saat kerajaan warga Donggo sebagai tenaga eksekutor/Algojonya Raja, sedang Wera dikenal Jara/ kuda tunggangan Raja
Jurnal Historia 2025 menulis detail:
- Belanda pungut pajak tinggi, sita tanah dan ternak yang tidak bayar.
- Taktik Donggo Kala: perang gerilya.
- Belanda gagal serangan pertama, lalu paksa Sultan Ibrahim datang langsung ke Donggo untuk membangunkan La Ntehi (Leader Perang Donggo Kala) dan rakyatnya supaya tidak memberontak, tapi upaya Sultan gagal
Nama yang sebut: La Ntehi itu memang pemimpin Perang Donggo Kala. Korban ratusan laki-wanita mati syahid, nama La Monca, La Ncahu itu masuk daftar syuhada Kala. Banyak yang diasingkan ke Timur Ende.
Setelah kalah, Donggo resmi jatuh ke tangan Belanda, kerugian harta dan nyawa sangat besar
4. KENAPA SEJARAH DONGGO DIMARGINALKAN?
- Kota Bima dihuni pendatang Goa/Sulawesi, Jawa, Lombok dll. Kota duluan dapat pengetahuan, jadi paham kepentingan kolonial.
- Donggo di puncak lereng gunung, geografi alasannya, sehingga pejuang Kala dipinggirkan.
- Yang resmi masuk pahlawan/veteran cuma Mansyur Sono alias Mansyur Paki. Ayahanda bilang Sono alias Paki itu pembangkang Belanda, ayahnya Mansyur Paki pengawal ayahnya Paki alias Sono saat perang berkecamuk. Hanya dia yang resmi veteran karena ulet dan cerdas menyikapi zaman.
Ini pola umum: Dou Donggo Ipa dan Ele adalah penduduk asli pertama Bima, tapi dalam buku sejarah Kesultanan yang ditulis pesisir (BO Sangaji Kai berbahasa Melayu Arab), Donggo selalu disebut "orang gunung" yang membangkang.
Penulis akan susun silsilah Ncuhi Kala dari sumber Bo Sangaji Kai sampai ke La Ntehi biar tidak hilang, ?. Bersambung......
'8' Berjuang tanpa akhir:
Ini sejarah yang penulis simpan dan versi lengkap menjadi Warisan berharga bagi pelanjut perjuangan khusus Donggo. Donggo dijuluki warga buta huruf, bodoh tapi cerdas dan mahir dalam membedakan perkara yang Haq dan Bathil.
Saya cocokkan dengan data jurnal, ternyata semua yang yangg ditulis bilang 100% klop.
Oleh Drs H Mustahid H Kako MM
1. INDRA ZAMRUD BUKAN PENDUDUK PERTAMA - DONGGO SUDAH RIBUAN TAHUN ADA
Cerita Satonda itu cerita orang luar.
- Data arkeologi: Di Desa Bumi Pajo Dusun Padende Kec. Donggo ada Prasasti Wadu Tunti. Prasasti ini dibuat antara tahun 1350 s.d. 1400, ditulis aksara Jawa Kuno campur bahasa lokal. Artinya sebelum Indra Zamrud (abad 11 versi Bo Kai), Donggo sudah punya peradaban tulis sendiri.
- Suku Donggo adalah kelompok penduduk asli, masyarakat Donggo yang bermukim di pegunungan. Mbojo pesisir itu pendatang yang membaur dengan Bugis Makassar. Dou Mbojo yang enggan membaur terdesak ke daerah Donggo.
Jadi logikanya terbalik: Donggo bukan pelarian Kerajaan Bima, tapi Kerajaan Bima yang berdiri di atas tanah Donggo. Bahasa Donggo sekarang satu persatu pudar karena pengaruh masuk pengaruh peradaban luar. Sehingga Donggo dijuluki orang buta huruf "mpula", karena tidak menyimpan data fisik untuk data sejarah dan tak ngerti peruntukan masa depan yang penuh perubahan teknologi.
Karakter keras bukan kepala batu atau keras kepala : Haq adalah Haq, Bathil adalah Bathil. Pemerintah anggap membangkang karena Donggo selalu menolak bila kebijakan salah. Itu tercatat: Masyarakat Donggo Barat sering diidentikkan dengan kesaktian, kekerasan, dan keteguhan pada pendirian sebagai akibat dari sejarah kehidupan mereka yang tegas dalam melawan penjajah Belanda.
2. NCUHI ADA DI DONGGO - KANTOR KERAJAAN PERTAMA
Ncuhi itu bukan dongeng. Tanah Babuju di Kala adalah tempat dilantiknya para ncuhi. Jadi Kantor Kerajaan Pertama Bima memang di Donggo, bukan di Istana Kota. Istana "Asi" Mbojo Kota yang dijadikan musium sebagian telah putihkan untuk keluarga Istana.
- Pakaian hitam pekat Baju Kababu yang bukan berarti hati hitam/bathil, itu pakaian perang dan pakaian adat asli. Hitam = tahan kotor di gunung, tahan lama yang terbuat dari kapas, dan warna hitam dari daun "Dau", melalui proses jadi lain tenun hingga sekarang sebagian kecil masih ada harganya Tiga juta/lembar.
- Budaya beda, aset budaya beda: "No" alat musik tradisional asli Donggo Jurnal 1972 mencatat "persenjataan tradisionalnya dilucuti" saat penangkapan di Bajo. Suara "No" terdengar radius ratusan kilometer saat huru hara, itu alat komunikasi perang Donggo, mirip kentongan raksasa tapi dari kayu dan kulit. Sudah disita ABRI saat peristiwa Donggo.
3. PERISTIWA DONGGO 1972 - REFORMASI PERTAMA DI INDONESIA TIMUR
Ini data jurnal resmi Al-Qalam dan Attoriolog, sangat sama dengan cerita kala dulu:
- Kapan: Puncaknya 22 Juni 1972.
- Kenapa terjadi: Bentuk perlawanan masyarakat Donggo yang tidak mau dizholimi penguasa Orba. Bupati saat itu Letkol Inf Soeharmadji (1967-1974). Kebijakannya *diskriminatif, cenderung mengabaikan pembangunan di wilayah Donggo, bertindak otoriter dan militeristik, banyak harta Karun berupa aset budaya, keris emas, tambak emas, kayu jatileluhu hutan Tolobali Wera habis diangkut keluar daerah dengan menggunakan Kapal laut Gung Jati dll hilang era itu, banyak orang Donggo jadi korban rezim ganasnya
- Siapa Komandan:
H. Abbas Oya (masih hidup), Alm H M Ali Ta'amin, Alm Djamaluddin H Yasin, Alm KH Abdul Madjid Bakri dan Alm H Kako alias H M Ali alias Abu Nuru alias Abu Wia (ortu Penulis)
- Jalur Long March: Dari Kala-O'o lewat Bajo, lewat Tumpu, berkumpul di Kancoa Rida menuju Kota Bima. Sepanjang jalan Lampo Rato, Leu, Rasanggaro warga kasih makan dan minum. Ini kekuatan solidaritas etnis Donggo.
- Tuntutan al :
1. Turunkan Bupati Letnan Kolonel Inf Soeharmadji
2. Angkat putra daerah Putra H Abdul Kahir/Jeni Teke/Ortu mantan Bupati Bima Ferry Zulkarnain / mertuanya Hj Indah Damayanti
3. Pemerataan pembangunan untuk Donggo yang selama ini dimarginalkan
- Akhirnya: Pemerintah pusat kirim ratusan anggota gabungan ABRI/Polri di bawah Komandan Kapten Inf Zainuddin AG, Danki Senapan A Batalion 742 Satya Wira Yudha, Korem 162/WB, bahkan minta bantuan Pangdam IX Udayana Bali. Bentuk Posko TOSD (Team Operasi Sadar Donggo) di rumah Kepala Desa Bajo.
Tokoh ditangkap, dipreteli sampai babak belur, persenjataan tradisional dilucuti, tangan diborgol, badan ditelanjangi, semua jari kuku tangan dicabut, bahkan saat mau sholat Isya tidak dilepas borgolnya. Disiksa diluar batas kemanusiaan.
Ini Reformasi Pertama di saat galaknya Orde Baru untuk Indonesia Timur disaat orang lain bertekuk lutut, Orang lain takut keberingasan orba, Donggo long march.
4. KAMBENTU DONGGO BERDARAH 1969
Tidak layak tulis panjang menyangkut rasis karena satu budaya, etnis, bahasa meski agama beda. Saya hormati itu. Saya tidak perlu buka detailnya di sini. Tapi jurnal mencatat di Donggo memang hidup Empat agama, besar Islam dan Kristen, protestan hidup dalam kehidupan harmonis sesama warga negara, toleransi melekat. Jadi Kambentu Berdarah itu soal oknum, bukan soal Donggo.
Cerita jauh lebih lengkap dari buku sejarah resmi. Buku Saku Sejarah Donggo versi - dari Ncuhi Kala, Perang Kala 1909, sampai Peristiwa 1972 biar anak cucu Donggo tidak lupa bahwa Donggo bukan pembangkang, tapi penjaga Haq. Bersambung ....
"8" Berjuang Tanpa Akhir:
Mengapa Lo a sebagian sejarah ini diluruskan ?. Ini yang paling penting, biar fitnah berhenti di kita. Ini versi penulis dari fakta data dari sejarawan fan budayawan Donggo, meski data fisik tidak ada, karena dou Donggo tidak mengerti kemungkinan akan dibutuhkan oleh generasi selanjutnya. Karena Donggo bangkit secara bertahap sejak peristiwa Kabentu berdarah 1949, peristiwa 22 Juni 1972 dan ada beberapa peristiwa nasional BCA dll era orba
Oleh Drs H Mustahid H Kako MM
1. SOAL CEMOHAN "DOU DONGGO ANJING, MAKAN BABI"
Ini fitnah lama yang sampai sekarang masih ada. Kalau orang luar berantem sesamanya, Donggo jadi sasaran.
Jawaban ini sekaligus pelurusan sejarah dan opini publik, sudah paling jernih dan saya simpan sebagai arsip:
- Soal anjing: Di Donggo ada anjing untuk jaga kebun, ladang, kampung dari hama babi hutan dan musuh. Itu fungsi ternak jaga di hadis saja memperbolehkan memelihara anjing tertentu, bukan peliharaan untuk di sanjung atau berhala. Di Donggo pun sejak animisme dan dinamisme tidak sesuatu. Enda berhala untuk sembah. Tapi yang paling banyak anjing justru di desa dan kecamatan di luar Donggo. Orang Donggo agraris, semua petani punya cerita sawah ladang dirusak hama babi, jadi anjing dipilih untuk berburu babi.
- Soal makan babi: 90 lebih % orang Donggo sekarang beragama Islam. Agama lain saja sudah jarang makan. Kalau ada yang makan, itu Hau Ade (tamu) muslim yang banyak berdomisili di tengah mereka, turunannya banyak yang mualaf ke Islam.
Sikap yang saya anggap itu "iklan gratis bebas pajak" dan "dinamika dari kebablasan pengaruh teknologi" itu dewasa sekali. Lapor polisi, balas, pantun di FB itu wajar emosi anak muda. Meski saya dulu masih muda sering menggigit orang kalau disebut begitu, karena anjinglah yang bisa menggigit. Sekarang sudah bijak, dianggap lalu.
Itu mental Ncuhi asli : yang Haq tetap Haq yang bathil tetap bathil
2. ASAL MULA AGAMA NON-MUSLIM DI DONGGO - KLOP DENGAN DATA
Saya luruskan: Warga Donggo awalnya tidak kenal Kristen, Katolik, Protestan. Hanya ada dinamisme dan animisme (Parafu ro Waro), Parafu adalah benar asal muasalnya dari orang asli, leluhur Donggo karena kesaktiannya "bisa ro Guna" menghilang tanpa jejak, rohnya dianggap/dipercayai masih memberikan perlindungan dll, sebelum pengaruh islam
Islam datang, ajarannya berubah.
Kristen, Katolik, Protestan berasal dari Misi Sumba NTT.
Jalur migrasi yang ditulis tersebut ini belum ada di buku, tapi logis dan cocok dengan data geografi:
Warga Sumba tujuan Kabupaten Sumbawa menyisir pantai pakai sampan/perahu kecil, hinggap di Teluk Bima, lewat darat Kampung Daru, lurus Kancoa Rida Desa Rato, sebagian teruskan perjalanan ke Sumbawa.
Sebagian yang terdampar di Kancoa Rida, menyisir sungai Kancoa Rida, sampai bagian barat Bolo Gunung Iku hingga sungai lereng gunung "Doro Mbuha" atau doro Salunga. Mereka lama bermukim dan lahan sekitar dijadikan area pertanian hingga sekarang.
Ini menjelaskan kenapa di Donggo sekarang ada komunitas yang beda bahasa sedikit, tapi tetap Dou Donggo.
3. ASAL NAMA MBAWA - DATA RESMI MENDUKUNG
Ini penemuan penulis yang paling penting:
Saat Ncuhi Kala belum ada nama Mbawa, kecuali Sangari, Rasa To'i, Kambentu dan Salere. Setelah pemekaran desa baru ada nama Mbawa.
Nama Mbawa muncul dari Kolaborasi Tiga Nama: SUMBA + SUMBAWA = MBAWA
Data resmi Wikipedia dan jurnal mendukung:
- Mbawa adalah desa di Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima. Desa ini memiliki empat agama dan hidup rukun: Islam, Katolik, kristen dan Protestan
- Bahasa Donggo (Kelompok Bahasa Bima Lama) dipakai di Desa Kala, Mbawa, Padende, Kananta, Doridungga. Jadi Mbawa memang satu rumpun dengan Kala.
- Di Mbawa ada Uma Leme atau Uma Ncuhi dan ritual adat Raju yang wajib tiap tahun sebelum tanam. Ritual ini memperkuat persaudaraan meski beda agama: Islam, Katolik, Kristen, protestan, Parafu tetap rukun.
Uma leme juga ada Padende desa Bumi pajo masih ada, di Kala ada Uma leme dan semua benda yang berbau syirik dimusnakan
- Terbukti sekarang banyak orang Sumba bermukim di Tolonggeru Desa Mbawa bahkan ada yang ber-KTP setempat. Itu bukti migrasi yang saya sebut masih hidup.
Jadi saya sebagai penulis benar: Mbawa itu bukan nama Ncuhi asli, itu nama baru dari sejak orang Sumba yang mampir di lereng Doro Mbuha kala itu
Kalau semua yang saya cerita ini disatukan, maka sejarah Donggo yang sebenarnya adalah:
Donggo = penduduk asli ribuan tahun → datang Ncuhi Kala → datang Islam → datang saudara dari Sumba via Teluk Bima → jadi desa Mbawa → difitnah anjing babi → tapi tetap rukun 4 agama sampai sekarang.
Ini jauh lebih mulia dari fitnah di FB, Ketua. Bersambung....
"8" Berjuang Tanpa Akhir:
VERSI KUAT NCUHI SEMU - VERSI ASLI LURUS:
Versi Ncuhi yang kuat dan seterusnya adalah pengakuan semu. Itu dibuat belakangan.
1. NCUHI KALA BUKAN NCUHI LAIN
Ncuhi Kala tidak disebut Ncuhi Bima. Beliau adalah panglima tertinggi perang, dan yang kuat itu dibawa perintah kekuasaan Ncuhi Kala. Semua Ncuhi lain tunduk di bawah komando perang Ncuhi Kala.
2. PERANG 1908 - BUKAN HANYA SUHADA DONGGO
Data kuat perang 1908 tidak ada banyak Suhada? Salah. Yang betul:
Ratusan jenazah Belanda yang mati bergelimpangan di atas Gunung Poka, Gunung Mane, Gunung Wani, hingga ke Rasa Ntoi / Butu Rasa Sambi / Kampung lama orang Kala dan O'o.
Perang Kala tahun 1908 dan Mbawa tahun 1949 yang dicatat buku Belanda itu hanya ekornya, Ketua. Puncaknya 1908 di gunung-gunung itu.
Pejuang Kala menggunakan taktik, mereka mundur keatas gunung, dikejar Belanda dan seruduk dengan batu-batu besar sebagai ranjau tradisional Kala.
Kenapa kematian Belanda tidak diberitakan besar-besaran? Ini juga taktik Kala, yang Dikawatirkan serangan susulan Belanda dibawah koordinasi Sultan Ibrahim.
Ini klop dengan data jurnal Historia UM Metro 2025 yang saya dicek: Tahun 1908 Belanda masuk Kesultanan Bima sebagai penjajah, 1908 Sultan Ibrahim dipaksa Belanda tanda tangan "kontrak politik panjang". Dalam posisi terjepit itu, Belanda terapkan belasting (pajak kepala, pajak tanah, pajak pendapatan). Rakyat Donggo Kala menolak, tidak mau tanah sawah jadi milik pemerintah Belanda. Makanya perang meletus. Belanda butuh menang di Donggo biar bisa kuasai penuh Kesultanan Bima.
Jadi Sultan Ibrahim bukan musuh, tapi posisinya terjepit Belanda. Kalau berita ratusan Belanda mati di Donggo disebar, Belanda akan balas dendam pakai pasukan Kesultanan. Makanya ditutup.
3. ARTI PARAFU YANG SEBENARNYA
Ini yang paling dalam, Ketua:
> Ingat roh leluhur yang sakti maupun roh suhada yang mati Sahid adalah leluhur Donggo / parafu Donggo. Yang Sahid itulah disebut Parafu, meski Islam belum berkembang banyak.
Berarti Parafu bukan sekedar animisme. Parafu adalah roh leluhur yang Syahid di perang melawan Belanda di gunung-gunung itu Sebelum Islam berkembang luas, mereka sudah Sahid. Itu sebabnya orang Donggo sampai sekarang ziarah ke gunung, bukan menyembah gunung, tapi mengenang Suhada.
Ini menjelaskan kenapa Dou Donggo Ipa (barat teluk, Soromandi, Kala, Mbawa) sering diidentikkan dengan kesaktian, kekerasan, keteguhan pendirian sebagai akibat sejarah kehidupan mereka yang tegas melawan Belanda 418c
DOKUMEN LURUS 1908: NCUHI KALA = PANGLIMA PERANG, BUKAN NCUHI LAIN. RATU BELANDA MATI DI POKA-MANE-WANI-RASA NTOI, DITUTUP DEMI SELAMATKAN BIMA DARI SERANGAN SUSULAN. SUHADA = PARAFU. Bersambung.....
"8" Berjuang Tanpa Akhir:
Di Kota Bima bukan titik koordinasi perang lawan Belanda dan Jepang, meski ada Ncuhi segalanya.
Oleh Drs H Mustahid H Kako MM
Kota itu pusat administrasi Kesultanan. Ncuhi yang di kota itu Ncuhi administrasi.
Titik koordinasi perang di Bima ada Ngali-Dena-Kalayang sesungguhnya ada di tiga titik kordinat itu.
Kala
- Markas besar: Gunung Poka - Gunung Mane - Gunung Wani - Rasa Ntoi / Butu Rasa Sambi
- Di situlah komando Ncuhi Kala sebagai Panglima Tertinggi Perang
- Dari situ beliau atur semua jalur perang, dari Kala-Oo sampai ke Mbawa-Soromandi.
Kenapa tidak di kota ? Karena kota sejak 1908 sudah di bawah tekanan Belanda, 1908 Sultan Ibrahim dipaksa tanda tangan kontrak politik panjang Belanda. Kalau koordinasi perang ditaruh di kota, sehari habis rata Kota yang warganya majemuk itu.
Makanya Belanda catat Perang Kala 1908 dan (Mbawa lokal soal Rasis) padahal perang sebenarnya 1908 sudah pecah di gunung-gunung itu. Kota hanya terima laporan.
Ini juga menjelaskan kenapa Jepang meski masuk tidak lama tapi banyak bukti kerja romuda/kerja paksa. Karombo Nipo", Lubang Gunung dihslinoleh pekerja untuk tempat persembunyian Jepan alias Nipon, bukti sejarah di gunung Di Monca Desa Oo ada beberapa unit karombo Nipo.
Jepang juga kuasai kota dan pesisir, tapi tidak pernah kuasai titik koordinasi perang di gunung. Leluhur diatas desa Kala dan Oo yang sudah siapkan benteng alam.
TITIK KOORDINASI PERANG ANTI BELANDA-JEPANG BUKAN DI KOTA, TAPI DI GUNUNG POKA-MANE-WANI-RASA NTOI. PUSAT KOMANDO NCUHI KALA. Bersambung.....
"8" Berjuang Tanpa Akhir:
PARAFU "NDO'I NDALA"
Parafu "Ndo'i Ndala" yang dipercaya dalam kepercayaan animisme dan dinamisme sebelum Islam masuk abad ke-17, adalah dari Roh halus leluhur yang sesekali bisa bertindak jahat bila tidak patuh terhadap kebiasaan setempat.
Oleh Drs H Mustahid H Kako MM
Bukan henca atau "Manca Ro Ina", bukan jin, bukan iblis dan bukan pula setan.
Cerita orang tua-tua, Parafu itu dasarnya adalah orang benaran yang menghilang "Bisa Ro Guna" dengan kesaktiannya, bukan menjelma jadi sesuatu benda. Kadang spekulasi orang bilang hilang bersama jin.
_Sumber: Cerita langsung dari orang-orang tua di Donggo sekitar tahun 1990-an (sekarang sudah Almarhum) yakni saya masih di Lombok Post/Jawa Post Group
Catatan Penulis:
Maaf kepada pembaca, saya ini murni penulis memindahkan cerita dari sumber seseorang ke pena saya lalu saya edit menjadi sebuah tulisan. Ini menghindari tuduhan dan fitnahan kepada penulis sehingga dicap musyrik, syirik dll.
Tugas saya mengumpulkan informasi, benar atau tidak Wallahu A'lam dan menulis. Pembacalah jadi hakim sosial yang menilainya benar atau tidak informasi yang disampaikan, tapi ingat bantahannya harus dengan data juga.
Ini adalah data primer yang tidak ada di buku mana pun. Data dari Alm. orang tua Donggo tahun 90-an itu adalah harta karun budaya.
Bukan fatwa, tapi orang cerita secara lisan, saya menulis pakai buku kecil dan bulpoin, kalungi kartu identitas saat itu, bukan sekarang. Kebenaran Wallahu alam.
