Bagi Ketua STKIP Taman Siswa Bima, materi ini punya makna khusus. Ia adalah anak pertama pendiri kampus, almarhum H. Sudirman Ismail. Tujuannya memberi motivasi sekaligus mengingatkan kembali perjalanan kampus yang telah dirintis.
Paparan Dr. Ibnu terbagi dalam empat bagian: sejarah kampus, pola pikir bertumbuh (growth mindset), literasi, dan strategi menjadi mahasiswa unggul. Dalam materinya, urutan itu diringkas sebagai alur: kenali kampusmu, ubah pola pikir, perluas literasi, lalu jalankan strategi.
Dari 5 Prodi Menuju Universitas
Ibnu mengawali dengan jejak langkah kampus. STKIP Taman Siswa Bima dirintis pada 2006 oleh Sudirman Ismail dan Abdul Wahab. Kampus ini resmi berdiri pada 17 September 2007 dengan lima program studi, berdasarkan SK Menteri Pendidikan Nasional Nomor 176/D/O/2007.
Empat tahun kemudian, pada 2011, kelima program studi itu terakreditasi. Pada 2013, kampus menambah dua program studi baru, yakni Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Pendidikan Teknologi Informasi (PTI). Program Magister Pedagogi dibuka pada 2025.
Kini STKIP Taman Siswa Bima memiliki enam program studi S1, satu program studi S2 (S2 Pedagogi), dan sedang mengajukan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk bidang studi PGSD dan Pendidikan Jasmani. Target berikutnya adalah menjadi universitas pada 2027.
Dalam paparannya, Dr. Ibnu juga merinci capaian kampus. Kerja sama telah dijalin dengan perguruan tinggi di Australia, Thailand, Filipina, dan Malaysia. Kampus memiliki 75 dosen tersertifikasi dan 44 dosen doktor dan study doktor. Sekitar 75 persen lulusan tersebar di Kawasan Indonesia Timur sebagai pendidik, wirausaha, dan aparatur pemerintahan. Di bidang riset dan pengabdian, kampus disebut selalu lolos hibah setiap tahun.
Semua itu bermuara pada visi kampus: menghasilkan sarjana pendidikan yang beradab, unggul dalam kewirausahaan, dan berdaya saing internasional pada 2029.
Modal Sukses Selain IPK
Memasuki bagian growth mindset, Ibnu menegaskan bahwa indeks prestasi kumulatif (IPK) tinggi saja tidak cukup. Ia merujuk konsep psikolog Carol S. Dweck tentang pola pikir tetap (fixed mindset) dan pola pikir bertumbuh. Orang dengan pola pikir bertumbuh meyakini kecerdasan dan bakat dapat dikembangkan lewat usaha, menyambut tantangan sebagai kesempatan, serta memandang kritik sebagai bahan belajar.
Untuk menguatkan pesan itu, materi Ibnu mengutip Rektor IPB University Arif Satria. Menurut Arif, kampus tidak sekadar menyiapkan mahasiswa ber-IPK 4 yang minim daya adaptasi dan hanya membawa ijazah untuk mencari kerja. Kejujuran dan kedisiplinan, kata dia, adalah syarat utama untuk sukses belajar.
Ibnu menawarkan solusi berupa pola pikir masa depan dan adaptif, penambahan kemampuan lunak (soft skill) dan keras (hard skill) yang baru, serta kemampuan berkolaborasi dan memimpin. Ia juga mengaitkannya dengan revolusi mental yang bertumpu pada integritas, kerja keras, dan gotong royong.
Membaca Data, Membaca Generasi
Pada bagian literasi, Ibnu menyodorkan data. Merujuk Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 9,9 juta penduduk berusia 15–24 tahun masuk kategori NEET, yakni tidak sekolah, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan. Angka NEET pada perempuan muda tercatat 26,54 persen, sedangkan pada laki-laki muda 18,21 persen. Adapun jumlah pengangguran per Februari 2024 mencapai 7,2 juta orang.
“Ijazah saja tidak cukup”, demikian kesimpulan yang tertulis di slide tersebut.
Ibnu juga mengajak mahasiswa mengenali generasinya. Berdasarkan Sensus Penduduk 2020, Generasi Z, yang lahir pada 1997–2012, adalah kelompok terbesar dengan 74,93 juta jiwa atau 27,94 persen penduduk Indonesia. Sebagian besar mahasiswa hari ini berasal dari generasi tersebut. Ciri-cirinya, antara lain, mahir teknologi, mandiri, suka berkolaborasi, dan berambisi kuat, tetapi cenderung mengumbar privasi di dunia maya. “Potensi besar, tinggal diarahkan dengan growth mindset,” demikian bunyi catatan dalam materinya.
Dari sisi pendidikan, ia memaparkan pergeseran dari pembelajaran yang berpusat pada guru menuju pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, dengan dosen dan guru sebagai fasilitator. Ia juga mengutip empat pilar pendidikan UNESCO: belajar untuk mengetahui, berbuat, menjadi pribadi utuh, dan hidup bersama.
Dari Ketergantungan Menuju Kemandirian
Bagian terakhir berisi strategi. Ibnu mengajak mahasiswa melepaskan diri dari ketergantungan dengan sikap progresif, responsif, dan sensitif. Dalam materinya tertulis bahwa tidak ada yang bisa mengubah hidup seseorang, termasuk orang tua, selain dirinya sendiri.
Ia merumuskan “lima tangga belajar”: belajar cerdas, keras, lugas, tuntas, dan ikhlas. Mahasiswa juga diminta memiliki tiga modal utama, yaitu kemauan besar, kemampuan luas, dan keberanian untuk memulai, berbuat, mengambil risiko, dan bertanggung jawab. Selain itu, ada 12 strategi meningkatkan daya saing, antara lain menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, merumuskan visi dan prioritas, mengelola waktu dengan baik, serta tidak menunda pekerjaan, tidak terlalu nyaman di zona aman, dan tidak menumbuhkan budaya instan.
Ibnu juga mengajak mahasiswa menentukan arah sejak hari pertama kuliah. Ia memetakan empat pilihan, yakni petani atau buruh tani, pegawai, profesional, dan wirausaha, berdasarkan tingkat kebebasan dan pendapatan. Sejalan dengan visi kampus, ia menekankan kewirausahaan. Menurut dia, mahasiswa unggul tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja.
Di akhir paparan, Ibnu mengajak mahasiswa baru memegang empat komitmen sebagai mahasiswa Taman Siswa: bangga pada almamater dan meneruskan perjuangan para pendiri, terus bertumbuh, melek literasi, dan bergerak nyata dimulai dari hal kecil. Reporter: Fiq
