Kegiatan ini menghadirkan dosen Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Rekreasi (PJKR) Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Taman Siswa Bima, Dr. Rabwan Satriawan, M.Pd., sebagai narasumber.
Sosialisasi dimulai pukul 08.30 Wita itu diselenggarakan Kelompok Kerja Guru (KKG) PJOK Kecamatan Mpunda sebagai bagian dari program kerja periode 2026–2027. Kegiatan ini berada di bawah naungan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kota Bima.
Ket.gambar: Guru-Guru Mpunda Pose Bersama usai GiatDalam materinya, Rabwan menegaskan bahwa sport science di sekolah dasar tidak dimaksudkan untuk menjadikan murid sebagai atlet. Ilmu tentang tubuh, gerak, perilaku, dan lingkungan itu dipakai untuk membantu setiap anak belajar bergerak dan hidup aktif.
Ia membuka paparan dengan gambaran satu kelas berisi 30 murid. Ada murid yang cepat berlari tetapi mudah lelah, ada yang cakap bergerak tetapi kurang percaya diri, dan ada yang membutuhkan instruksi bertahap serta ruang gerak yang aman. Tantangan guru, menurut materi itu, adalah merancang pembelajaran yang menantang tanpa membahayakan dan tetap memberi kesempatan belajar bagi semua murid.
Untuk menjawabnya, peserta diperkenalkan pada siklus pembelajaran berbasis bukti: mengamati, merencanakan, melakukan, lalu mengevaluasi, kemudian mengulang dengan data baru. Data yang dimaksud tidak harus rumit. Materi tersebut menyebut catatan guru yang konsisten lebih berguna daripada tes canggih yang tidak ditindaklanjuti.
Guru diajak mengamati lima indikator, yaitu keterampilan gerak, kebugaran, partisipasi dan usaha, pemahaman, serta kesejahteraan murid. Alat yang dibutuhkan sederhana, antara lain stopwatch, kerucut atau garis lapangan, lembar observasi, skala usaha ringan-sedang-berat, dan video singkat dengan izin.
Rabwan juga memberi contoh penerapan pada pembelajaran lari dan perubahan arah selama 35 menit. Pelajaran dimulai dengan pembukaan dan pemanasan, dilanjutkan eksplorasi, latihan lintasan zig-zag, permainan estafet, dan ditutup refleksi. Murid dinilai dengan rubrik tiga tingkat, yakni perlu dukungan, berkembang, dan konsisten. Tugas dibagi menjadi tiga jalur, yaitu awal, berkembang, dan menantang, tanpa melabeli murid sebagai “lemah” atau “pintar”.
Aspek keselamatan mendapat penekanan. Guru diingatkan memeriksa kondisi lapangan, menyediakan air minum dan jeda istirahat, serta menaikkan intensitas secara bertahap. Aktivitas perlu dihentikan jika murid mengalami nyeri, pusing, atau sesak yang tidak wajar.
Materi juga mengaitkan sport science dengan konteks lokal. Guru didorong memanfaatkan permainan tradisional untuk melatih koordinasi, kelincahan, dan kerja sama. Guru juga diminta menyesuaikan waktu dan ruang aktivitas dengan cuaca Kota Bima serta berbagi lembar observasi dan variasi permainan antarsekolah. Permainan tradisional sejalan dengan bidang kepakaran Rabwan, yakni pendidikan rekreasi olahraga dan permainan tradisional.
Pada sesi praktik, peserta mengaudit satu pembelajaran PJOK yang biasa mereka ajarkan, secara berpasangan atau dalam kelompok kecil selama 10 menit. Mereka menjawab lima pertanyaan: tujuan gerak, bukti belajar yang dicatat, modifikasi bagi murid yang beragam, risiko keselamatan, dan tindak lanjut guru. Hasil yang diharapkan adalah satu rancangan pembelajaran PJOK berbasis bukti yang siap diuji di kelas.
Rabwan menutup paparannya dengan tiga pesan: amati, sesuaikan, dan belajar bersama. Reporter: Fiq

