"8" Berjuang Tanpa Akhir: PEMBELAAN AGAMA & ETNIS DONGGO

Oleh: Drs. H. Mustahid, H. Kako, MM

Hingga sekarang masih ada penghinaan atas Etnis Donggo, baik soal adatnya, budaya bahkan soal agama dengan menyebut "Orang Donggo Kristen", padahal tidak semua orang Donggo Kristen.

Hanya sebagian kecil ada di Desa Mbawa. Sedangkan Islam sekitar 80% - 90%. Penganut Kristen hanya di Desa Mbawa itupun tidak semua, banyak yang sudah Mualaf ke Islam.

Di Zaman Ka'oe, Zaman Naka Ncuhi, kepercayaan mereka adalah adanya Roh Leluhur yang disebut *Parafu. Ini adalah Dinamisme dan Animisme, bukan Hindu atau Budha. Karena tidak ada benda sembahannya atau bangunan Pura dan sebagainya.

Nah, pertanyaannya: Sebelum pengaruh Islam masuk Bima abad ke-17, orang Bima / Mbojo / Dompu agamanya apa? Animismekah atau Dinamismekah? Sementara agama Kristen adalah agama bawaan penjajah Belanda, Spanyol, Inggris dan lain-lain yang masuk Nusantara.

Saat Islam berkembang di Bima Dompu, memang Donggo terlambat berkembang Islamnya, disebabkan pengaruh geografis. Menuju Donggo jarak tempuh lebih 60 KM, jalan mutar letter "S" dari Terminal Dara melintasi Talabiu belok kanan, Muku belok kanan, Daru belok kiri, pertigaan Cabang Donggo belok kanan menuju Tumpu baru tanjak ke puncak Donggo. Ada juga lewat Bajo belok kiri nanjak ke puncak Kala.

Jika nyebrang pakai sampan rakit atau sampan layar kecil.

Pantaslah mubalig Islam masuk ke Donggo ? Belum lagi daerahnya jauh lebih dingin dari Bogor. Ini yang membuat para mubalig tidak lama bertahan di Donggo.

Oleh Sultan Ibrahim turun ke Sultan Hasanuddin, mengutus KH Abdul Madjid Bakri/Tokoh Peristiwa Donggo 1972  untuk sekolah agama Islam keluar daerah dan Alhamdulillah sekembalinya menerapkan aqidah Islam ke seluruh pelosok Donggo hingga Donggo Dompu, semua benda asset dan situs budaya termasuk perangkat peralatan tenun milik turunan La Hilla Kala di musnakan. Bila disimak sejarah ini yang meng-Islamkan orang bukan orang luar tapi oleh orang sendiri.

Sampai sini kurang apa lagi Dou Donggo? Sementara sejarah dibelokkan, sumber sejarah dari Donggo yang penulisnya orang luar Donggo. Sejarah dipandang perlu diluruskan oleh cucu keturunan dou Donggo, orang luar hanya menerima manfaatnya.

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama