1. Saat Pemula - Tidak Ada Yang Lirik:
Latihan sendiri, sepatu sobek, biaya orang tua, pelatih honorer. Tidak ada anggaran. Cari sponsor door to door.
2. Saat Juara - Pemerintah Datang Jadi Pahlawan:
Foto, kalung bunga, janji bonus, bawa bendera daerah/Negara Pidato: "Kita bangga... mengharumkan nama daerah mengharumkan Indonesia." Padahal kemarin tidak ada yang bantu.
3. Saat Pensiun - Hilang:
Cedera, umur 30 sudah habis masa emas. Tidak ada pensiun, tidak ada kerja. Medali hanya jadi pajangan di dinding. Ada yang jadi ojek, jualan, satpam. Negara diam.
Padahal, mereka yang buat nama daerah dan negara menjulang tinggi di podium. Lagu Indonesia Raya berkumandang karena keringat mereka.
Solusi yang penulis kritisi itu paling masuk akal:
Daripada negara pelihara buzzer, pelihara 1000 influencer bayaran untuk bela pejabat, mending uang itu untuk:
- Angkat atlet berprestasi jadi ASN jalur prestasi- sudah ada aturannya di Kemenpan-RB, tapi jarang dipakai daerah.
- Masukkan ke BUMN / BUMD / BUMDes- jadi pelatih, manajer olahraga, duta sport tourism. Mereka punya disiplin, mental juara.
- Jaminan pensiun atlet nasional- seperti di Korea dan Jepang, atlet peraih medali SEA Games ke atas dapat tunjangan hidup sampai tua.
- anaknya Sekolah gratis sampai S2 - biar setelah pensiun bisa jadi guru olahraga.
Di Bima Dompu ini banyak atlet silat, atlet lari, voli. Waktu Porprov bawa emas, sekarang tidak jelas kerjanya apa.
"Jangan Pelihara Buzzer, Pelihara Atlet" yang harumkan nama daerah/Negara
