Dengan menyebut nama Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.
Pada hari ini, kita memberikan penghormatan dan penghargaan setinggi-tingginya kepada "PETISI SEPULUH" — Sepuluh Putra Terbaik Donggo yang dengan keberaniannya telah menorehkan sejarah emas perlawanan rakyat terhadap rezim otoriter Orde Baru.
Peristiwa 22 Juni 1972 bukanlah sekedar demonstrasi. Ia adalah puncak kemarahan rakyat Donggo atas kebijakan diskriminatif, militeristik, dan represif Bupati Bima Letkol Soeharmadji yang menelantarkan pembangunan di Donggo.
Dari rumah komando di Desa O'o, lahirlah sebuah petisi bersejarah yang diketik oleh M. Amin Umar dan ditandatangani oleh 10 tokoh, yang isinya mendesak Bupati Soeharmadji untuk turun dari jabatannya. Jika tidak, Donggo siap turun paksa dan menjadikan Bima sebagai kuburan massal. Itu adalah bentuk tertinggi dari keberanian di masa ketika UU Anti Subversif bisa memenjarakan siapa saja.
Maka dengan ini, penghargaan khusus diberikan kepada:
1. Djamaluddin H. Yasin (Alm) - Representasi Elit Tradisional
2. H. Abbas H. Oya, BA - Aktivis Mahasiswa, Wakil Anak Muda
3. H. M. Ali Ta'amin (Alm) Elit Tradisional, Pemilik Rumah Komando Perjuangan
4. KH. Abdul Madjid Bakri (Alm) Representasi Ulama
5. H. Kako (Alm) - Tokoh Kebatinan / Mistik Lokal
6. H. M. Ali Arsyad - Tokoh Masyarakat
7. Ahmad Natsir (Alm) Tokoh Masyarakat
8. Yakub Dode (Alm) - Tokoh Masyarakat
9. H. M. Amin Umar - Juru Ketik Petisi, Pegawai Honorer Kesehatan yang menjadi saksi sejarah
10. Muhammad Nor Sulaiman Tokoh Masyarakat
Mereka bukan pemberontak seperti yang dituduhkan rezim. Mereka adalah pejuang keadilan. Mereka adalah bukti bahwa kolaborasi Ulama, Cendekiawan, Mahasiswa, dan Tokoh Adat mampu menyatukan massa Dou Donggo untuk melawan hegemoni kekuasaan.
Atas pengorbanan mereka yang ditangkap, disiksa, dan dipenjara demi kehormatan Donggo, nama mereka akan abadi dalam memori kolektif Bima.
Merdeka Dou Donggo!
Ditetapkan di: Donggo, Bima Pada Tanggal: 22 Juni 2025 - 53 Tahun Peristiwa Donggo
