"8" Berjuang tanpa akhir: BAB III: DOU DONGGO - DARI RASA KA'OE DAN RASA DORO BIA ROA

OLEH: DRS. H. MUSTAHID, H. KAKO, MM. 

A. Asal-Usul Dou Donggo Yang Sebenarnya

Buku Bo' Kesultanan Bima banyak yang ngarang soal Dou Donggo. Ditulis Dou Donggo itu geseran dari Melayu kota Bima, karena tidak mau kawin campur. Itu salah total.

Menurut tetua di Duhaniu Mpili, Doro Bata, Rasa Ka'oe dan doro Bi'a Roa, Dou Donggo sudah ada jauh sebelum 8.000 saudagar Melayu masuk Bima tahun 1640.

Dou Donggo asli diperkirakan keturunan pelaut dari Vietnam / Champa yang perahunya dampar di pantai Laut Donggo, sekarang Soromandi. Dari pantai mereka naik ke gunung, membuka kampung pertama mencari kehidupan baru di Rasa Ka'oe dan doro bi'a roa, Mereka adalah penjaga asli Dana Mbojo yang masih percaya Kakimbi Kakamba, Roh, aninisme dan dinamisme, sebelum Islam datang dibawa Syekh Umar Al-Bantani (Sehe Banta) dari Banten dan Datuk-Datuk dari Minangkabau.

Kampung tua mereka bukan di pesisir, tapi di atas: Doro Bata, Rasa Ka'oe, doro Bi'a Roa di Donggo 

B. Ciri Khas Pernikahan Dou Donggo Asli: Endogami Tertutup

Inilah ciri paling khas Dou Donggo asli yang tidak dimiliki suku lain di Bima.

Dahulu, Dou Donggo TIDAK MAU menikah dengan orang di luar Donggo.

Hukum adatnya keras:

1. Hanya boleh nikah serumpun: Dou Donggo harus nikah dengan Dou Donggo juga. Darah harus tetap murni. Anak Duhaniu nikah dengan anak Mbawa, anak Kala nikah dengan anak Mpili.

2. Pantangan besar nikah dengan Dou Mbojo pesisir: Dianggap beda adat, beda cara makan, beda bahasa. Kalau ada yang melanggar, kena denda adat, takut pamali harus potong kerbau.

3. Tujuannya: Untuk menjaga tanah ulayat, menjaga bahasa Donggo yang asli, dan menjaga kepercayaan pada alam dan leluhur.

Sistem ini bertahan ratusan tahun bahkan berabad-abad. Itu sebabnya sampai tahun 1970-an, orang Donggo masih sangat tertutup.

C. Masa Transisi: Jalan Dibuka, Hati Dibuka

Mulai tahun 1980-an, pemerintah membuka jalan Bima - Donggobsebagai respon peristiwa Donggo 1972. Truk masuk, sekolah masuk, radio masuk. Termasuk saya sendiri, pindah dari Duhaniu Mpili ke Tolobali sejak 1988 sebagai generasi  transmigrasi gunung ke teluk.

Anak-anak Donggo mulai sekolah di Kota Bima, di Mataram, di Makassar. Dari sinilah adat pernikahan mulai berubah.

D. Dou Donggo Masa Kini: Adaptasi Modern - Exogami Terbuka

Ini kesaksian saya yang juga sebagai warga Tolobali 50 meter dari makam Sehe Banta.

Sekarang, Dou Donggo SUDAH MEMBUKA DIRI TOTAL.

Hukum endogami yang kaku itu sudah dicabut oleh zaman. Dou Donggo sekarang menikah dengan siapa saja:

- Nikah dengan warga kecamatan lain di Bima dan Dompu: Woha, Bolo, Sape, Kempo.

- Nikah dengan Dou Lombok (Sasak), Bali, Makassar (Bugis), Jawa.

- Bahkan sampai nikah dengan orang Papua Irian Jaya, Papua Nugini, NTT, Sumatera, Kalimantan.

Saya lihat sendiri di Tolobali, anak Donggo nikah dengan orang Jawa transmigran, anak Donggo nikah dengan tentara dari Sumatera. Tidak ada lagi denda kerbau.

Ini bukan hilangnya adat, ini ADAPTASI.

Dou Donggo membuktikan dia bisa modern tanpa hilang identitas. Bahasa Donggo tetap dipakai di rumah, tapi bahasa Indonesia dipakai di kantor. Adat Kakimbi Kakamba sudah diganti dengan Islam yang dibawa Sehe Banta, tapi rasa hormat pada gunung dan hutan tetap ada.

Kesimpulan Opini Penulis:

Dou Donggo dulu menutup diri untuk bertahan hidup di gunung. Sekarang Dou Donggo membuka diri untuk menguasai dunia. Dari Rasa Ka'oe yang terpencil, sekarang anak Donggo ada di seluruh Indonesia. Dari yang dulu hanya boleh nikah serumpun, sekarang beranak-pinak dengan seluruh suku di Nusantara. Itulah tanda Donggo sudah dewasa. Dou Donggo sudah banyak ASN, TNI polri, puluhan orang yang doktor kandidat  profesor.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama