Program Kambeke Ana adalah program yang dirancang khusus agar para orang tua secara emosional bisa membangun kedekatan dengan buah hatinya. Dalam perkembangannya program ini cukup mendapat perhatian banyak pihak utamanya para orang tua sebagai sebuah program yang berdampak positif bagi tumbuhkembang anak kearah yang lebih baik kedepannya.
Kedekatan yang dibangun orang tua memberi ruang anak bisa dipahami secara utuh. Dari kedekatan yang di bangun orang tua dapat mengetahui dinamika yang tengah berlangsung dalam kehidupan anak.
Kesibukan orang tua dalam mencari nafkah bagi anggota keluarganya mempersempit ruang bagi mereka untuk bisa memahami secara utuh dinamika yang tengah berkembang dalam kehidupan anak.
Kesibukan dalam mencari nafkah bagi anggota keluarga membuat orang tua tidak punya banyak waktu luang dalam membersamai buah hatinya.
Sejatinya sebagai sosok yang pertama dan utama sebelum anak mengenal dunia luar, orang tua harus membuka ruang yang besar bagi anak untuk mendapat bekal yang cukup baik dari orang tua terkait pola perilaku yang akan mereka kembangkan di kemudian hari.
Dampak dari sempitnya ruang yang orang tua siapkan untuk mengenal buah hatinya secara utuh dan lebih dekat, akhirnya anak lebih cenderung dekat dengan figur lain diluar orang tua.
Disinilah persoalannya mulai muncul. Akses atau ruang yang sempit tadi membuat anak mengembangkan mindset berbeda dari harapan orang tua.
Anak lebih nyaman berinteraksi dengan figur lain dibandingkan dengan orang tuanya juga menjadi bagian dari dampak sempitnya akses yang orang tua siapkan dalam berinteraksi dengan buah hatinya.
Bagi anak-anak yang oleh orang tua mereka terbuka jalan luas untuk bisa akrab dalam berinteraksi dalam perkembangan selanjutnya tetap menjadikan orang tua sebagai figur idola dan mereka tumbuhkembang dalam mindset yang positif.
Disinilah program kambake Ana ikut bermain cantik dalam membentuk karakter anak. Dari sini orang tua harus bisa memastikan mereka adalah figur yang kehadirannya sangat dibutuhkan anak untuk mengenal dunia luar yang lebih kompleks.
Salah satu hal penting yang juga harus disasar dalam program kambeke ana ini adalah dengan mengenali secara dini kapan buah hati tersayangnya mulai tertarik secara intim dengan lawan jenis.
Mengenal secara intim lawan jenis adalah proses yang normal pada anak dan itu menjadi bagian dari tumbuhkembang yang akan dialami anak.
Mengenali secara intim lawan jenis menjadi penanda tumbuh dewasanya seorang anak dalam perjalanan hidup mereka dari waktu ke waktu.
Dengan mengenali lawan jenisnya mendorong anak bisa mengambil peran yang lebih semisal mengambil tanggung jawab sosial yang lebih tinggi levelnya sebagai anggota masyarakat.
Namun demikian proses anak mengenali lawan jenisnya harus melalui proses yang sehat dan normal sesuai konteksnya disertai dengan adanya bimbingan, arahan dan tempaan yang memadai dari para orang tua.
Saat proses mengenali lawan jenisnya berjalan secara sehat maka anak akan memiliki konsep hidup positif dan bijaksana. Dari proses yang sehat ini makan bisa mengambil peran sosial secara bertanggung jawab.
Sebaliknya bila proses mengenali lawan jenis ini berlangsung dalam proses yang salah (tidak normal) dampaknya akan hadir anak-anak yang tidak beretika (bermoral rendah) dalam pergaulannya dengan lawan jenisnya.
Pergaulan bebas antara lawan jenis tampa disertai batasan-batasan semisal terjadinya kehamilan diluar nikah dan juga pernikahan dini menjadi bagian dari dampak yang muncul saat anak belajar hal yang salah dalam mengenali lawan jenisnya.
Kapan Anak Mulai Kenali Lawan Jenis dan Bagaimana Orang Tua Mengedukasi nya?
Proses anak mengenali lawan jenisnya berjalan secara bertahap. Proses dimaksud tidak berlangsung dalam satu fase atau secara tiba-tiba.
Proses mengenali lawan jenis diawali dari rasa ingin tahu yang wajar, bukan ke arah romantis dulu.
Usia 2 - 3 tahun menjadi tahapan anak mengenali perbedaan fisik dengan lawan jenisnya.
Di usia ini anak mulai sadar (paham) adanya perbedaan tubuh kaum laki-laki dan perempuan yang dimulai dari orang terdekat dalam lingkungan keluarga seperti kakak atau adik.
Pemahaman itu dimulai dengan mengajukan satu pertanyaan kritis "kenapa kakaknya pipisnya beda?" dan "kenapa rambutnya panjang?".
Dalam hal ini pertanyaan yang muncul dari anak murni dari rasa ingin tahu. Belum ada konsep "suka" atau "pacaran".
Dalam keadaan seperti ini peran orang tua sangat dibutuhkan untuk memberikan penjelasan.
Dari pertanyaan yang muncul dijawab saja secara jujur, singkat, dan dengan bahasa yang benar dan mudah dimengerti.
Misal saat sedang berintetaksi dengan anak berikan penjelasan "itu penis, itu vagina". Jangan dimarahi biar mereka nggak merasa tubuh itu tabu.
Usia 4 - 6 tahun. Dalam usia ini menjadi bagian dari tahapan dari anak untuk "bermain peran & teman".
Di fase ini anak mulai pilih teman main. Ada anak laki-laki yang lebih suka main sama laki-laki, dan sebaliknya.
Dalam tahapan ini akan muncul perilaku peran seperti "nikah-nikahan", atau "dokter-dokteran".
Peran yang dimainkan lebih ke arah mereka meniru apa yang dilihatnya dari TV/rumah.
Di fase ini anak mulai paham norma kalau "cewek harus pakai rok, cowok pakai celana".
Peran yang harus dimainkan orang tua dalam fase ini adalah ajarkan kepada anak batasan tubuh.
Bagian pribadi adalah milik sendiri tidak boleh diganggu oleh orang lain dan ajarkan juga untuk menghargai dan menghirmati teman tanpa membedakan.
Usia 7 - 10 tahun adalah tahapan "Jauh-jauhan". Di fase ini banyak anak yang merasa seolah-olah berdekatan dengan lawan jenis adalah hal yang tidak lazim. Bahkan ada yang mengungkapkan "ihh jorok" deh kalau dekat lawan jenis.
Sikap berjauhan itu lebih disebabkan anak mulai paham akan identitas gender yang lebih kuat.
Di fase ini rasa ingin tahu anak tentang tubuh makin detail, apalagi kalau sudah lihat internet.
Peran yang harus dimainkan orang tua di fase ini adalah dengan mengedukasi masalah seks, perubahan tubuh, privasi, dan bahaya yang muncul.
Pada Usia 11 - 13 tahun menjadi fase awal pubertas.
Saat ini hormon tubuh mulai bekerja. Di sini muncul rasa tertarik ke lawan jenis yang lebih kuat.
Ketertarikan anak pada lawan jenisnya di fase ini bisa berlangsung secara diam-diam, malu, grogi dan yang terjadi adalah normal.
Dalam tahap ini anak mulai membandingkan dirinya dengan orang lain dan butuh validasi.
Peran yang harus dimainkan orang tua dalam fase ini adalah menjadi tempat aman buat ngobrol.
Saat membersamai mereka bahaslah hal-hal yang terkait dengan respek, batasan, pacaran sehat, itu akan menjadi petunjuk yang baik bagi mereka.
Oleh: Firmansyah, S.Psi., M.MKes. Pengamat Sosial dan Tumbuhkembang Anak Remaja.