DONGGOVOICE.com Bima, 211026 — Calon guru harus bisa berpikir kritis, bukan hanya pandai memakai kecerdasan buatan (AI). Pesan itu mengemuka dalam kuliah umum daring bertajuk “AI Jadi Asisten, Bukan Joki: Belajar Cerdas Tanpa Kehilangan Integritas” yang digelar Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Taman Siswa Bima pada Oktober 2026 melalui Zoom.Kuliah umum yang diikuti sekitar 40 mahasiswa semester 3 itu menghadirkan Hilhamsyah, M.Pd., mahasiswa program doktor Pendidikan Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Menurut dia, AI semestinya membantu mahasiswa belajar, bukan sekadar menyelesaikan tugas. Mahasiswa diharapkan menjadi semakin pandai karena AI, bukan hanya mahir menggunakannya.
Hilhamsyah menyebut orang yang cerdas akan semakin cerdas dengan bantuan AI, sedangkan orang yang malas berpikir akan semakin tertinggal. Ia mencontohkan dirinya sendiri yang tetap menulis tangan dan menyusun ide sendiri meski studi doktoralnya banyak terbantu AI. Dalam survei singkat kepada peserta, sebagian besar mengaku memakai AI hampir setiap hari.
Hilhamsyah mengingatkan bahwa jawaban AI belum tentu benar. Jawabannya bisa terdengar meyakinkan padahal keliru, misalnya klaim bahwa minum air es menyebabkan flu, padahal penyebabnya infeksi virus influenza. Rujukan yang diberikan AI pun kerap tidak jelas atau palsu. Ia juga menyebut AI cenderung menyetujui pernyataan penggunanya sehingga pengguna harus kritis.
Untuk mendapat hasil yang baik, ia menganjurkan penyusunan prompt atau perintah yang terstruktur, yakni memuat instruksi, konteks, peran, batasan, serta iterasi dan verifikasi. Dalam demonstrasi, hasil dari prompt singkat dibandingkan dengan prompt terstruktur yang disertai artikel rujukan. Hasil kedua terbukti lebih terarah dan berbasis data, meski AI tetap sempat memunculkan materi di luar konteks sehingga perlu diperiksa dan diarahkan ulang.
Hilhamsyah juga menekankan integritas akademik. Ia membedakan peran asisten, yang memberi petunjuk, kritik, dan latihan, dari joki, yang mengerjakan seluruh tugas tanpa proses belajar. Mahasiswa dianjurkan transparan dengan mencantumkan bantuan AI pada karyanya serta menghindari tiga pelanggaran akademik: plagiat, fabrikasi, dan falsifikasi data. Penggunaan AI dalam ujian dan pemalsuan sumber termasuk hal yang tidak diperbolehkan.
Ketua Program Studi PGSD STKIP Taman Siswa Bima Rizalul Fiqry, S.Si., M.Pd., dalam sambutannya mengatakan, prodi berharap seluruh mata kuliah terintegrasi dengan penggunaan AI dengan AI diposisikan sebagai asisten. Kurikulum baru, katanya, telah memuat mata kuliah Etika dan Penggunaan AI dalam Pendidikan yang membahas plagiasi, fabrikasi, dan falsifikasi data. Ia juga mengingatkan mahasiswa memiliki tiga peran, yaitu sebagai mahasiswa, calon guru, dan peneliti pemula.
Dalam sesi diskusi, Rizalul meminta narasumber menunjukkan cara menyusun desain penelitian dari tema umum ke khusus dengan AI. Hilhamsyah memperagakan alur mulai dari brainstorming tema, rekomendasi judul, hingga penyusunan latar belakang. Ia menegaskan, hasil AI tidak boleh langsung disalin, tetapi dibaca, diperiksa, ditulis ulang, lalu dijadikan draf.
Di akhir kegiatan, Hilhamsyah berpesan agar mahasiswa tidak hanya melatih AI sementara otak sendiri tidak dilatih. Calon pendidik, katanya, harus memiliki ilmu untuk dibagikan kepada murid karena yang diajarkan kepada murid adalah cara berpikir. DVc Biro Bima, Fiq