"Istilah "ekonomi kerakyatan" itu indah di pidato, tapi pahit di lapangan. Dari Orde Lama, Orde Baru, sampai Orde Reformasi hari ini, polanya tidak pernah berubah: membedah ekonomi rakyat selalu dijadikan dalih oleh pemerintah, yang ujungnya justru menjadi perampasan hak dan tindakan otoriter penguasa terhadap rakyatnya sendiri.Oleh Drs H Mustahid H Kako MM
Di Orde Lama, dalihnya adalah revolusi dan nasionalisasi. Tanah rakyat diambil atas nama negara.
Di Orde Baru, dalihnya adalah pembangunan dan stabilitas. Tanah adat digusur atas nama proyek strategis nasional.
Di Orde Reformasi yang katanya demokratis ini, dalihnya lebih halus: investasi, hilirisasi, dan kepentingan umum. Tapi kelakuannya sama diktatornya.
Lihatlah efeknya yang paling nyata dirasakan rakyat kecil melalui pemilu dan setelah pemilu:
Rakyat hanya dibutuhkan suaranya setiap lima tahun. Setelah penguasa duduk, rakyat dilupakan. Kekuasaan yang lahir dari pemilu yang katanya demokratis itu berubah menjadi otoriter.
Bentuk otoriter yang paling telanjang adalah penyerobotan lahan.
Tanah pekarangan milik rakyat yang diwariskan turun-temurun, tiba-tiba ditancapi tiang listrik tanpa izin yang layak. Ditancapi tiang telekomunikasi tanpa ganti rugi yang adil. Kalau rakyat protes, diancam dengan pasal.
Lebih parah lagi, perampasan lahan rakyat yang berkedok "untuk kepentingan umum." Dalihnya untuk jalan tol, untuk bendungan, untuk tambang, untuk kawasan industri. Rakyat dipaksa menjual tanahnya dengan harga murah yang ditentukan sepihak oleh aparat dan makelar tanah. Kalau menolak, dicap menghambat pembangunan, dikriminalisasi.
Inilah wajah diktator yang sesungguhnya. Bukan lagi diktator berseragam militer seperti zaman dulu, tapi diktator berdasi yang berlindung di balik regulasi dan UU Pengadaan Tanah.
Ekonomi kerakyatan yang dijanjikan ? Tidak pernah turun ke rakyat. Yang turun justru alat berat ke sawah rakyat.
Kesimpulannya keras: selama negara masih menganggap tanah rakyat sebagai milik penguasa yang bisa diambil kapan saja dengan dalih pembangunan, maka kita belum pernah benar-benar merdeka dari penjajahan. Hanya ganti penjajahnya saja, dari Belanda menjadi bangsa sendiri.