Merumuskan Peta Jalan dari Serpong


DONGGOVOICE.com I Bima, 210826 — Dua hari di penghujung pekan pada pertengahan Juni 2026, sebuah ruang pertemuan di Hotel Trembesi Serpong, Tangerang City, berubah menjadi ruang perdebatan gagasan. Bukan perdebatan yang meributkan siapa benar dan siapa salah, melainkan perdebatan yang mencari titik temu: bagaimana anak-anak Indonesia bisa diajak tidak sekadar membaca, tetapi benar-benar berpikir saat membaca.

Pada 11–12 Juni 2026 itu, 31 orang dari berbagai latar belakang duduk satu meja dalam Workshop Persiapan Pilot Penguatan Kemampuan Berpikir Kritis dan Inferensial untuk Pemahaman Bacaan. Ada perwakilan Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) serta Direktorat Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), ada delegasi Balai Besar Guru Penggerak dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Barat, ada pula perwakilan Direktorat GTK Madrasah dan Pusat Pengembangan Kompetensi (Pusbangkom) Kementerian Agama RI. Dari jalur pendidikan tinggi, hadir Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dari Nusa Tenggara Barat, Maluku, dan Jawa Barat, berdampingan dengan tim INOVASI dan para interpreter yang menjembatani diskusi lintas bahasa.

Dari unsur LPTK NTB, dua dosen STKIP Taman Siswa Bima, Ahyar, M.Pd. dan Anisah, M.Pd., ikut ambil bagian sejak forum ini masih berupa lembaran gagasan yang belum berbentuk. Bagi keduanya, dua hari di Serpong itu bukan sekadar menghadiri undangan, melainkan titik berangkat dari sebuah perjalanan panjang yang baru akan menemukan bentuknya berbulan-bulan kemudian.

"Waktu itu kami belum tahu persis akan seperti apa hasil akhirnya. Yang kami tahu, semua yang hadir diminta bicara, memberi masukan, membagi pengalaman dari daerah masing-masing. Tidak ada yang datang sebagai penonton," kata Ahyar mengenang forum tersebut.

Semua Orang Adalah Narasumber

Yang membedakan workshop ini dari forum-forum seremonial adalah posisi peserta. Tidak ada yang duduk pasif sebagai audiens. Seluruh 31 peserta berperan sebagai narasumber sekaligus kontributor yang menyumbangkan perspektif, pengalaman, dan masukan substantif bagi rancangan Pilot Program Penguatan Kemampuan Berpikir Kritis dan Inferensial.

Keberagaman latar belakang itu bukan kebetulan. Kehadiran unsur kementerian, balai pelatihan guru, direktorat pendidikan madrasah, hingga LPTK dari tiga provinsi berbeda dirancang agar rancangan pilot memiliki dasar konseptual yang kokoh, sekaligus tetap membumi pada konteks pembelajaran yang beragam di lapangan.

Anisah menuturkan, diskusi di ruang itu berulang kali kembali pada satu pertanyaan mendasar: bagaimana membuat anak-anak memahami sesuatu yang tidak dikatakan secara langsung oleh teks. "Kami banyak bicara tentang bagaimana anak-anak sebenarnya bisa memahami bacaan bukan hanya dari apa yang tertulis, tapi dari apa yang tersirat di baliknya. Itu bagian yang menurut saya paling menantang untuk dirancang, karena setiap daerah punya karakter anak dan bahan bacaan yang berbeda-beda," ujarnya.

Sepanjang dua hari, pembahasan bergerak pada dua kemampuan yang saling berkelindan, yaitu berpikir kritis dan berpikir inferensial dalam memahami bacaan. Peserta diajak menelaah bagaimana peserta didik dapat memahami informasi tersurat sekaligus tersirat, menghubungkan berbagai potongan informasi dalam bacaan, menggunakan bukti untuk mendukung pemikiran, mengajukan pertanyaan, memberi alasan, berdialog, dan pada akhirnya menarik kesimpulan secara logis. Konteks pembelajaran nyata di kelas terus-menerus dihadirkan ke dalam diskusi, agar rancangan yang lahir tidak berhenti di atas kertas, melainkan benar-benar bisa dijalankan dan menghidupkan pembelajaran yang dialogis, reflektif, dan berbasis penalaran.

Merangkai Kerangka dari Diskusi Terbuka

Proses dua hari itu tidak berjalan satu arah. Pemaparan konsep dari fasilitator selalu diikuti diskusi terbuka, telaah bersama, dan umpan balik yang saling menajamkan gagasan. Dari sana, peserta bekerja secara kolaboratif mematangkan rancangan implementasi pilot, hingga menyentuh hal-hal teknis yang menjadi tulang punggung program: desain monitoring dan evaluasi, mekanisme baseline dan endline, indikator utama keberhasilan, metode pengumpulan data, desain pelatihan, strategi implementasi di lapangan, hingga skema dukungan berkelanjutan pascapilot.

"Bagian yang paling melelahkan sekaligus paling penting justru di sesi merumuskan indikator dan mekanisme monitoring-evaluasi. Di situ kami dipaksa membayangkan program ini benar-benar berjalan di kelas, bukan sekadar konsep di atas kertas," kata Ahyar.

Dari rangkaian diskusi itu, lahirlah satu dokumen yang menjadi penanda keberhasilan workshop: blueprint atau kerangka besar Pilot Program dalam bentuk Theory of Change (ToC). Kerangka ini memetakan secara runtut hubungan antara persoalan yang hendak dijawab, intervensi yang dirancang, tahapan pelaksanaan, keluaran yang ditargetkan, hingga perubahan yang diharapkan terjadi pada peserta didik di wilayah sasaran.

Titik Berangkat, Bukan Titik Akhir

Bagi Ahyar dan Anisah, dua hari di Serpong itu terasa seperti meletakkan pondasi sebuah bangunan yang belum tahu persis akan setinggi apa. Baru dua bulan kemudian, gambaran itu mulai menemukan bentuknya yang lebih konkret, saat blueprint dan ToC yang dirumuskan di Tangerang dibawa ke tahap berikutnya: Training of Facilitators (ToF) yang digelar di Bekasi pada 19–22 Agustus 2026, tempat para calon fasilitator, termasuk kembali Ahyar dan Anisah, dibekali kemampuan untuk benar-benar menerjemahkan kerangka besar itu menjadi praktik pendampingan di wilayah sasaran.

"Waktu di Serpong, kami merumuskan apa yang ingin dicapai dan mengapa itu penting. Baru di Bekasi kemudian dibahas bagaimana caranya, siapa yang mendampingi, dan seperti apa langkah teknisnya di lapangan. Dua kegiatan ini sebenarnya satu napas yang sama, hanya beda tahap," kata Anisah.

Rangkaian dari Serpong ke Bekasi itu menggambarkan bagaimana sebuah program pendidikan tidak lahir dari satu kegiatan tunggal, melainkan dari proses bertahap: dari forum kolaboratif yang merumuskan arah dan alasan, menuju pembekalan teknis yang mempersiapkan orang-orang yang akan turun langsung ke lapangan. Workshop di Tangerang City itu, dengan segala diskusi panjang dan kerangka besar yang dihasilkannya, menjadi jejak awal yang menentukan arah perjalanan Pilot Program Penguatan Kemampuan Berpikir Kritis dan Inferensial untuk Pemahaman Bacaan. Sebuah perjalanan yang, bagi Ahyar dan Anisah, kini terus berlanjut jauh melampaui ruang pertemuan tempat semuanya bermula. Reporter: Fiq

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama