Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari Workshop Persiapan Pilot Penguatan Kemampuan Berpikir Kritis dan Inferensial untuk Pemahaman Bacaan yang telah dilaksanakan sebelumnya. Jika kegiatan pertama menjadi ruang kolaboratif untuk merumuskan konsep, pendekatan, dan blueprint program dalam bentuk Theory of Change (ToC), kegiatan kedua ini difokuskan pada pembekalan calon fasilitator yang akan membawa dan mendampingi implementasi pilot di wilayah sasaran.
Selain unsur LPTK dari NTB, Maluku, Jawa Barat, dan Jawa Timur, kegiatan ini juga diikuti perwakilan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Kementerian Agama RI, tim INOVASI, konsultan internasional, serta interpreter. Dari unsur LPTK NTB, selain STKIP Taman Siswa Bima, hadir pula perwakilan Universitas Mataram.
"Keterlibatan kami sebagai LPTK bukan sekadar menjadi peserta, tetapi juga bagian dari upaya mengawal implementasi pilot ini di lapangan, terutama dalam hal monitoring, evaluasi, dan dokumentasi proses pembelajaran," kata Ahyar, Kamis (20/8/2026).
Pembekalan Fasilitator, Bukan Sekadar Pemahaman Konsep
Dalam ToF ini, peserta dipersiapkan sebagai fasilitator program yang akan mendampingi pelaksanaan pilot di wilayah sasaran. Pembekalan diarahkan tidak hanya pada pemahaman konsep program, tetapi juga pada penguasaan substansi dan strategi fasilitasi yang diperlukan agar penguatan kemampuan berpikir kritis dan inferensial dapat diterapkan secara efektif dalam pembelajaran pemahaman bacaan.
Ahyar menjelaskan, fokus konten pembelajaran mencakup dua kemampuan yang saling berkaitan, yakni berpikir kritis dan berpikir inferensial dalam memahami bacaan. "Pada aspek berpikir kritis, kami mendalami bagaimana pembaca menggunakan pertanyaan, bukti, alasan, dialog, serta evaluasi dan refleksi untuk membangun pemahaman terhadap teks. Sementara pada aspek inferensial, kami belajar bagaimana menarik inferensi dari bacaan, yaitu membangun pemahaman berdasarkan informasi yang tersedia dalam teks dan menghubungkan berbagai petunjuk untuk memperoleh makna yang tidak selalu disampaikan secara langsung," ujarnya.
Agenda ToF secara eksplisit memuat sejumlah sesi, antara lain "Membaca dan Berpikir Kritis untuk Pemahaman Bacaan", "Tiga Tingkat Pertanyaan untuk Memperkuat Pemahaman Bacaan", "Menggunakan Bukti dan Alasan dalam Dialog", "Menarik Inferensi dari Bacaan", serta "Evaluasi dan Refleksi terhadap Bacaan".
Substansi tersebut kemudian dihubungkan dengan dialog berbasis teks sebagai strategi untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan inferensial. Peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai strategi fasilitasi dan pendampingan dalam pilot, sehingga mereka tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu memfasilitasi proses pembelajaran yang mendorong peserta untuk bertanya, menggunakan bukti, memberikan alasan, menafsirkan informasi, menarik inferensi, dan merefleksikan pemahamannya terhadap bacaan.
Pembekalan Teknis Implementasi Pilot
Selain penguatan substansi, ToF juga membekali peserta dengan aspek teknis implementasi pilot. Peserta melakukan diskusi implementasi dan persiapan kabupaten, kemudian mendapatkan pembekalan mengenai kerangka monitoring dan evaluasi, instrumen baseline, simulasi pelaksanaan baseline, serta mekanisme pelaksanaan baseline di wilayah sasaran.
"Bagian teknis ini penting karena fasilitator tidak hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga harus siap turun langsung mendampingi pelaksanaan baseline dan memastikan data yang terkumpul di lapangan valid dan dapat dipertanggungjawabkan," kata Ahyar.
Ia menambahkan, kesiapan teknis tersebut menjadi penentu keberhasilan pilot ketika program mulai diimplementasikan di wilayah sasaran, mengingat fasilitator akan menjadi ujung tombak yang berhadapan langsung dengan kondisi di lapangan.
Menghubungkan Blueprint dengan Implementasi Lapangan
Output utama dari kegiatan ini adalah kesiapan calon fasilitator untuk mengimplementasikan dan mendampingi Pilot Program Penguatan Kemampuan Berpikir Kritis dan Inferensial untuk Pemahaman Bacaan di wilayah sasaran. Dengan demikian, ToF menjadi tahap strategis yang menghubungkan blueprint dan ToC yang dirumuskan pada kegiatan pertama dengan implementasi program di lapangan.
Anisah mengatakan, para fasilitator kini dibekali pemahaman yang utuh mengenai apa yang dikembangkan, yaitu kemampuan berpikir kritis dan inferensial, bagaimana mengembangkannya melalui pembelajaran berbasis teks dan dialog, serta bagaimana memfasilitasi, memantau, dan mengevaluasi pelaksanaannya di lapangan.
"Harapannya, apa yang telah dirumuskan dalam Theory of Change pada tahap sebelumnya benar-benar bisa diterjemahkan menjadi praktik pembelajaran yang konkret di kelas, sehingga kemampuan berpikir kritis dan inferensial anak-anak dalam memahami bacaan dapat tumbuh secara nyata," kata Anisah.
Keterlibatan STKIP Taman Siswa Bima dalam kegiatan berskala nasional ini sekaligus menegaskan peran perguruan tinggi kependidikan di daerah dalam mendukung program penguatan literasi yang melibatkan lintas kementerian, lembaga internasional, dan berbagai LPTK dari sejumlah wilayah di Indonesia. Reporter: Fiq
