Kepercayaan, Bukan Sekadar Teknologi: Kunci Kepemimpinan Digital di Era Sekarang

Kepercayaan sebagai Modal Utama Kepemimpinan

Mengawali paparannya, Prof. Nurliah menegaskan bahwa modal kepemimpinan paling berharga hari ini bukan lagi jabatan atau kewenangan, melainkan kepercayaan atau trust. Ia menjelaskan, di masa lalu seorang pemimpin memiliki keunggulan karena menguasai informasi. Namun kini, masyarakat memiliki telepon pintar, kamera, dan media sosial sendiri sehingga tidak lagi sekadar menerima informasi, tetapi juga memproduksi, menafsirkan, bahkan menyebarkannya secara mandiri.

"Di era banjir informasi, kekuasaan membuat orang mendengar. Kepercayaan membuat orang mengikuti," demikian pesan inti yang ia sampaikan.

Menurutnya, kepercayaan publik dibangun di atas empat pilar, yakni _credibility_ (dapatkah dipercaya), _competence_ (mampukah memberi hasil), _consistency_ (apakah ucapan sejalan dengan tindakan), dan _connection_ (apakah pemimpin memahami masyarakatnya). Keempat pilar ini disebutnya menjadi fondasi legitimasi, kerja sama, hingga dampak kebijakan di tengah masyarakat. Ia menegaskan, seorang pemimpin bisa saja memiliki wewenang tanpa kepercayaan, tetapi tidak akan mampu memimpin secara berkelanjutan tanpanya. 

Dunia Berubah, Kepemimpinan pun Bertransformasi

Prof. Nurliah memaparkan data bahwa perubahan besar akibat teknologi bukan lagi proyeksi masa depan, melainkan sedang berlangsung saat ini. Ia mengutip proyeksi World Economic Forum dan UNESCO yang menyebutkan sekitar 22 persen pekerjaan formal global tengah bertransformasi, dengan 170 juta pekerjaan baru diproyeksikan tercipta sementara 92 juta pekerjaan berpotensi tergeser menjelang 2030.

Ia juga menekankan pergeseran pola kepemimpinan, dari yang semula berbasis otoritas, perintah, dan hierarki menjadi kepemimpinan yang lebih autentik, dialogis, dan kolaboratif. Merujuk survei Deloitte Global 2025 terhadap lebih dari 23 ribu responden Gen Z dan milenial di 44 negara, ia menyebutkan bahwa 89 persen Gen Z dan 92 persen milenial menilai sense of purpose sebagai faktor penting bagi kepuasan kerja mereka.

Kepemimpinan Digital Bukan Sekadar Melek Teknologi

Salah satu penekanan penting dalam materi ini adalah bahwa kepemimpinan digital tidak identik dengan sekadar menggunakan teknologi. Prof. Nurliah merumuskan lima kemampuan yang harus dimiliki pemimpin digital: memahami perubahan, membangun kepercayaan, menggerakkan orang, memanfaatkan data dan teknologi secara etis, serta menciptakan dampak nyata bagi masyarakat.

Ia menggarisbawahi tiga kapasitas utama yang perlu terus diasah, yaitu digital mindset, human-centered leadership, dan data-informed decision. "Teknologi hanyalah alat. Kepemimpinan tetap tentang manusia," tegasnya, sembari mengutip sejumlah literatur pendukung, di antaranya W _orld Economic Forum (2023), OECD (2020), McKinsey & Company (2021), Harvard Business Review (2019), serta Westerman, Bonnet, dan McAfee (2014)_ .

Capaian Inovasi Kota Bima jadi Contoh Nyata 

Dalam paparannya, Prof. Nurliah turut menyoroti capaian Pemerintah Kota Bima yang berhasil meningkatkan jumlah inovasi daerah dari 162 menjadi 234 inovasi, atau naik 44,4 persen, berdasarkan Laporan Indeks Inovasi Daerah dari Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kemendagri. Namun ia mengingatkan bahwa esensi kepemimpinan digital bukan sekadar mengejar jumlah inovasi, melainkan memastikan rangkaian proses inovasi, komunikasi, adopsi, hingga dampak benar-benar dirasakan masyarakat.

"Inovasi yang tidak dikomunikasikan dengan baik akan sulit memperoleh kepercayaan, partisipasi, dan adopsi masyarakat," ujarnya.

Belajar dari Lelamase dan SMPN 12 Kota Bima

Prof. Nurliah turut mengangkat studi kasus nyata mengenai persoalan konektivitas dan akses digital di Kelurahan Lelamase dan SMPN 12 Kota Bima. Ia menguraikan logika kepemimpinan digital yang dimulai dari mendengarkan langsung keluhan warga, mengumpulkan dan memverifikasi data, membangun kolaborasi lintas pihak seperti Dinas Komunikasi dan Informatika, dinas pendidikan, penyedia layanan, hingga dunia usaha, sampai pada pengambilan tindakan cepat berupa perbaikan infrastruktur BTS dan akses internet sekolah.

" _Digital leadership_ bukan soal siapa yang paling canggih teknologinya, tetapi siapa yang paling cepat mengubah informasi menjadi solusi," tuturnya.

Model Komunikasi LUAS dan Nilai yang Tak Lekang Waktu

Untuk memudahkan penerapan di lapangan, Prof. Nurliah memperkenalkan model komunikasi pemimpin bernama LUAS, akronim dari _Listen_ (mendengarkan sebelum berbicara), _Understand_ (memahami data dan konteks), _Adapt_ (menyesuaikan pesan dengan audiens), dan _Share_ (menyampaikan informasi secara jelas, sederhana, dan konsisten). Ia menegaskan bahwa komunikasi massa yang efektif bukan soal seberapa banyak berbicara, melainkan seberapa baik masyarakat memahami dan mempercayai pesan yang disampaikan.

Di bagian akhir, ia mengingatkan bahwa sekalipun teknologi terus berubah, nilai kepemimpinan semestinya tetap. Ia memadukan lima prinsip kepemimpinan kontemporer, _transparency_ , _accountability_ , _collaboration_ , _responsiveness_ , dan _inclusiveness_ , dengan empat nilai kepemimpinan dalam Islam, yakni _shiddiq_ (kejujuran), _amanah_ (dapat dipercaya), _tabligh_ (mampu menyampaikan), dan _fathanah_ (cerdas dan bijaksana).

"Teknologi dapat mempercepat komunikasi, tetapi nilai menentukan apakah komunikasi itu dipercaya," pungkasnya.

Menutup Materi: Konsep 5C Pemimpin Digital Bima

Sebagai penutup, Prof. Nurliah merumuskan lima kunci yang disebutnya sebagai "Pemimpin Digital Bima: 5C", yaitu _Connect_ (terhubung dengan masyarakat), _Communicate_ (berkomunikasi secara sederhana, cepat, dan jelas), _Collaborate_ (menggerakkan pemerintah, masyarakat, kampus, dan dunia usaha), _Create_ (berani menciptakan inovasi), serta _Care_ (memastikan teknologi dan inovasi bermuara pada kesejahteraan manusia).

Ia mengajak seluruh peserta untuk turut merumuskan inovasi ke-235 bagi Kota Bima, sebagai kelanjutan dari capaian 234 inovasi yang telah ada. "Bukan hanya inovasi digital, tetapi inovasi yang membuat masyarakat merasa pemerintah hadir," ujarnya, mengakhiri paparan dengan pesan agar seluruh pihak bersama-sama menjadi pemimpin digital yang menginspirasi dan menghadirkan masa depan terbaik bagi Bima. 

Untuk diketahui, STKIP Taman Siswa Bima (Tamsis) kembali menegaskan komitmennya sebagai kampus berdampak. Kamis (6/8), lembaga pendidikan tinggi ini menggelar Sharing Session bertema "Kepemimpinan yang Amanah, Strategi Komunikasi, dan Kolaborasi Program yang Efektif di Era Digitalisasi" yang berlangsung serentak di dua lokasi: Gedung Beradab dan Auditorium Sudirman, Kampus I STKIP Taman Siswa Bima, serta di Aula Kanto Wali Kota Bima.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah tokoh, pemikir, dan peneliti dari tingkat nasional hingga internasional, di antaranya Prof. Nurliah Nurdin, MA (Dosen IPDN Kemendagri), Dr. Abdul Aziz, M.Si (Universitas Brawijaya), dan Chusnul Mar'iyah, Ph.D dari Universitas Indonesia. Sambutan dan pengantar disampaikan oleh Dr. H. Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si (Ketua STKIP Taman Siswa Bima). Reporter: Fiq

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama