Dalam kesehariannya anak memiliki pola kebiasaan saat bertemu ataupun berinteraksi dengan teman-teman sepergaulanya apakah itu di sekolah ataupun ditempat lainnya mereka akan saling bertanya. Diantara hal yang ditanyakan anak saat sedang bersua semisal siapa yang tadi mengantarnya datang ke sekolah.
Sifat anak yang polos membuatnya dengan jujur menceritakan semua apa yang ditanyakan teman temannya.
Kalau memang saat berangkat ke sekolah anak diantar ayahnya maka anak akan bercerita bahwa yang mengantar dia ke sekolah adalah ayahnya.
Kalaupun bukan ayah yang mengantar mereka ke sekolah maka dengan jujur anak akan bercerita yang mengantar mereka bukan ayahnya.
Sesuai keadaan mereka akan mengatakan yang mengantar mereka hadir di sekolah adalah ibunya, kakaknya, neneknya atau lainnya sesuai situasi yang terjadi.
Dampak Positif Bagi Anak Saat Ayah Ikut Mengantar Ke Sekolah
Ada dampak positif (hal baik) yang dirasakan anak saat ayah mereka ikut mengantarnya hadir ke sekolah.
Keterlibatan ayah dalam mengantar anak ke sekolah mampu membangun rasa aman, meningkatkan kepercayaan diri, serta memperkuat ikatan emosional.
Kehadiran figur ayah memberikan dampak psikologis yang mendalam, seperti melatih kestabilan emosi anak dan menjadi bentuk dukungan nyata dalam proses belajarnya.
Anak merasa didukung dan bangga, sehingga lebih berani bersosialisasi dan beradaptasi di lingkungan sekolah.
Dukungan langsung dari figur ayah memberikan rasa tenang, yang membuat anak lebih fokus dan semangat dalam mengikuti pelajaran.
Momen perjalanan menjadi ruang intim untuk berkomunikasi, bertukar cerita, dan meredakan kecemasan anak.
Kehadiran ayah menjadi teladan (role model) langsung yang baik, terutama dalam membentuk kemandirian dan kedisiplinan anak.
Keterlibatan Ayah Mengantar Anak Ke Sekolah Meredam Kasus Fatherless
Mengantar anak ke sekolah merupakan langkah awal yang efektif untuk mencegah dan mengurangi kasus fatherless.
Aktivitas Ayah mengantar anak ke sekolah merupakan sebuah ikhtiar membangun kedekatan emosional, menumbuhkan rasa aman, dan menunjukkan keterlibatan aktif ayah dalam tumbuh kembang anak, sehingga anak tidak merasa ditinggalkan secara emosional meski sang ayah tinggal serumah.
Banyak ahli dan pemerintah sepakat bahwa kehadiran fisik dan emosional ayah sangat krusial.
Momen seperti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) adalah saat krusial di mana anak membutuhkan dukungan mental. Kehadiran ayah pada momen tersebut membuat anak lebih percaya diri.
Pemerintah melalui program seperti Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah (GAMAS) yang didukung Kementerian Kependudukan dan BKKBN secara aktif mendorong para ayah untuk terlibat dalam kegiatan mengantar anak ke sekolah.
Dorongan dimaksud menegaskan bahwa peran ayah bukan hanya sekadar mencari nafkah, tetapi juga hadir sepenuh hati dalam pendidikan anak.
Ketiadaan figur ayah (fatherless) berisiko memicu masalah psikologis seperti kepercayaan diri yang rendah hingga kesulitan mengelola emosi.
Keterlibatan rutin seperti antar-jemput menjadi cara efektif untuk menciptakan hubungan emosional yang sehat antara anak dan ayah.
Demikian, mudah-mudahan bermanfaat uraian ini bagi kita semua terutama para ayah untuk menyongsong kehadiran generasi emas bangsa di tahun 2045 nanti.
Oleh: Firmansyah, S. Psi., M.MKes