Fakta yang harus kita terima dengan lapang, bukan dengan marah, bahwa ruang untuk promosi atau mutasi jabatan itu terbatas keadaannya.Ruang promosi atau mutasi jabatan itu seperti kursi di dalam Bus Jurusan Dompu - Mataram, atau Dompu - Surabaya.
Kursinya hanya mampu atau boleh diisi beberapa orang saja, tergantung jumlah jabatan (kursi) yang ada.
Katakanlah jumlah yang bisa dipromosi (jumlah kursi) hanya 12 orang namun jumlah pegawai (penumpang) yang memenuhi syarat sebanyak 100 orang bahkan lebih.
Tidak mungkin semua dapat duduk di depan. Tapi bukan berarti yang berdiri atau yang duduk paling belakang tidak sampai pada tujuan. Semua tetap sampai Mataram atau Surabaya, hanya beda posisi duduk saja.
Kenapa Ruang Promosi Itu Selalu Terbatas?
1.Struktur Piramida.
Bentuk organisasi itu piramida. Di bawah (staf) butuh 100 orang. Di atas (Kepala Bidang) hanya butuh 10 atau 15 orang. Di posisi paling atas (Kepala Dinas) hanya 1.
Makin ke atas makin sempit. Ini hukum organisasi, bukan karena pimpinan tidak sayang kepada kita.
2.Jabatan Itu Amanah, Bukan Hadiah.
Kalau semua orang promosi, siapa yang jadi staf yang menjalankan program dan kegiatan yang sudah direncanakan dari awal? Organisasi butuh yang kuat di bawah juga.
Jabatan bukan hadiah untuk yang paling lama menunggu, tapi amanah untuk yang paling siap memikul beban lebih berat.
3.Waktu Allah Lebih Tepat dari Waktu Kita.
Kita mau promosi tahun ini. Tapi Allah tahu, kalau kita promosi tahun ini dengan hati yang masih dendam dan belum sabar, jabatan itu akan merusak kita, bukan membesarkan kita.
Apa Yang Harus Dilakukan Saat Nama Kita Tidak Ada?
Ini 4 langkah sabar yang produktif, bukan sabar yang pasrah:
1.Ucapkan Alhamdulillah Dulu, Bukan Langsung Mengeluh.
Secara psikologis, kata pertama menentukan emosi 24 jam ke depan. Kalau kata pertamanya "Kok saya tidak ada lagi!", otak kita pasti akan mencari-cari bukti untuk membenarkan kemarahan itu seharian.
Tapi kalau kata pertamanya "Alhamdulillah, belum rezeki saya sekarang, berarti Allah masih mau saya kuat di sini", otak kitapun akan tenang.
Rasulullah mengajarkan: Sabar itu di hentakan pertama.
2.Jangan Bandingkan Dengan Yang Promosi.
Jangan lihat Instagram teman yang dilantik. Itu racun saat hati belum siap.
Yang promosi mungkin memang waktunya sudah tepat. Mungkin dia sudah 4 tahun di pelosok, mungkin dia punya skill yang memang dibutuhkan di sana. Rezeki orang bukan mengurangi rezeki kita.
3.Lakukan Audit Diri 3 Pertanyaan:
Jujur pada diri sendiri, tanpa menyalahkan orang lain:
Kompetensi: Apakah skill saya memang sudah layak untuk jabatan itu? Atau baru lama kerjanya saja?
Kontribusi: 6 bulan terakhir, apa karya nyata saya yang bisa dilihat pimpinan dan warga?
Akhlak: Apakah saya promosi untuk mengabdi, atau hanya untuk gengsi dan tunjangan?
Kalau ada yang bolong, itulah PR selama menunggu periode berikutnya. Bukan waktu untuk marah, tapi waktu untuk menambal bolong.
4.Tetap Berbuat Baik di Posisi Sekarang.
Ini kunci Nggahi Rawi Pahu yang paling tinggi.
Orang yang hebat bukan yang hanya baik saat jadi pimpinan. Tapi yang tetap baik, tetap rajin, tetap senyum melayani warga, padahal namanya tidak ada di daftar promosi.
Pimpinan yang bijak di Dompu itu melihat. Warga juga melihat. Catatan langit juga melihat.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu." (QS. Al-Baqarah: 216).
Mungkin tidak promosinya kita disaat sekarang adalah cara Allah melindungi kita dari fitnah jabatan yang belum kuat kita memikulnya.
Rumus Sabar Aktif:
SABAR =
S - Syukuri posisi sekarang
A - Audit kekurangan diri
B - Belajar skill baru
A - Amal tetap jalan (kerja tetap 100%)
R- Rencanakan untuk periode promosi berikutnya.
Promosi yang tertunda bukan penolakan. Itu hanya penundaan untuk persiapan yang lebih matang. Kita harus berprasangka baik bahwa Allah SWT hanya meminjam tangan Bupati (Pimpinan Daerah) untuk mengukir takdir kehidupan bagi kita.
Penulis: Firmansyah, S. Psi., M. M Kes