"Kambeke Ana", Saat Sedang Membersamai Buah Hati Tanyakan Cita-Citanya

Momen orang tua membersamai anak menjadi momen penting dan berharga untuk berbagi berbagai hal. 

Selain untuk membangun ikatan emosional saat membersamai anak di kesempatan ini orang tua juga bisa menjadikannya sebagai ruang untuk saling bertukar pikiran dengan buah hatinya. 

Aktivitas penting dan berharga yang dampaknya jangka panjang bagi tumbuh kembang anak pada saat orang tua sedang membersamai buah hatinya adalah dengan menanyakan Cita-cita buah hatinya. 

Menanyakan cita-cita buah hati saat orang tua membersamai mereka menjadi moment emas. Pertanyaan seputar apa-apa cita-cita anak di kesempatan ini akan membekas dalam waktu yang lama hingga anak berusia dewasa. 

Dalam keadaan seperti ini anak akan merasa dirinya didengar dan dihargai oleh orang tua, bukan hanya untuk di interogasi ketika mereka punya masalah. 

Saat ditanya apa cita-citanya sering secara spontan anak menjawab ingin jadi "dokter, pilot, youtuber". 

Jawaban yang diberikannya adalah sesuatu yang sering dia lihat di TV/HP. 

Dengan adanya jawaban yang seperti itu sebagai orang tua tidak langsung menilai itu hal yang "realistis tidak", namun dituntut untuk dapat menggali lebih dalam supaya mengetahui isi hati anak.

Saat menanyakan cita-cita buah hati ada tiga strategi yang bisa orang tua praktekan yang membuat anak lebih terbuka dalam menjawabnya. 

Bentuk pertanyaan orang tua dapat mempengaruhi jawaban anak. Ketika bertanya gunakan dengan ungkapan semisal ini;

"Kalau boleh jadi apa aja seharian, kamu paling mau jadi apa? Terus enaknya apa dari kerjaan itu?".

"Kamu lihat kakak/paman/ibu guru ngapain yang bikin kamu bilang 'aku mau kayak gitu'?".

Bentuk pertanyaan yang seperti itu dengan melihat fakta di sekitarnya anak jadi bercerita soal nilai di balik cita-citanya. 

Dampaknya anak membawa dirinya sebagai pribadi yang mau nolong orang, mau keliling dunia, mau bikin orang ketawa.

Saat bertanya baiknya pertanyaanya bisa disambungkan dengan kegiatan yang sedang berlangsung saat membersamai mereka. 

Semisal lagi masak bareng, ungkapkan dengan pertanyaan "Heh chef kecil, kalau punya restoran sendiri mau jual makanan apa?"

Kalau lagi lihat langit ungkapkan dengan pertanyaan "kalau bisa terbang ke mana saja, mau ke mana? Terus di sana mau ngapain?".

Obrolan orang tua a anak baiknya mengalir, dengan melihat fakta yang disekitarnya bukan berkesan kamu seperti orang yang sedang mewawancarai sesuatu hal.

Lainnya yang juga ikut membantu validasi dulu apa yang disukai atau disenangi anak, baru dikembangkan ke hal lain. 

Coba ungkapkan semisal ini "wah youtuber. Keren. Konten apa yang paling kamu suka bikin? Game, masak, atau prank? Nanti kita coba bikin 1 video pakai HP yuk"

Yang sering orang tua lupa dari perhatiannya adalah pengetahuan akan cita-cita anak itu bisa berubah-rubah setiap saat semisal di umur 5-10 tahun terkait masalah cita-cita anak bisa berganti setiap 2 minggu. Itu normal. 

Saat sedang menanyakan cita-cita buah hatinya ada tiga perkara penting yang orang tua tanamkan. Ketiga hal penting itu adalah;

1.Rasa ingin tahu: "Berani coba hal baru". Dalam memenuhi rasa ingin tahunya anak perlu dikuatkan mentalnya saat menemui kegagalan di usahanya. 

Bila gagal dia harus bisa bangkit lagi dan terus berjuang hingga meraih kesuksesan. Saat gagal itulah anak belajar tabah dan sabar. 

2.Kerja keras: "Kalau mau jago gambar, kita latihan 10 menit tiap hari ya". Kerja keras dalam melakukan sesuatu hal menggambarkan bahwa kesuksesan yang akan diraih bukan diraih dengan cara yang instan. dan

3.Niat membantu: "Ingin menjadi Dokter, Perawat, Psikolog, Apoteker, Lawyer, atau lainnya biar bisa menolong orang sakit ya? Hebat"

Di kali yang lain saat buah hati mengganti cita-citanya, pada intinya anak akan tetap membawa pesan atau bekal cerita yang sama.

Oleh: Firmansyah, S.Psi., M.MKes. Pengamat Sosial dan Tumbuhkembang Anak Remaja.

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama