Sebagai orang tua ataupun pengamat kita dapat menyaksikan dalam berbagai kompetisi apakah itu kompetisi olahraga, pembacaan puisi, pidato, sains, budaya, lomba mewarnai gambar dan banyak lagi yang lainnya para peserta ingin sekali tampil sebagai juaranya. Dalam banyak kesempatan para orang tua pun selalu mendorong buah hati mereka dapat mengukir Juara. Mendapatkan kesempatan itu berbagai event anak diikutkan orang tua agar mereka menjadi sosok juara.
Apakah predikat Juara yang diraih membawa dampak besar bagi kehidupan selanjutnya ataukah mampu merubah keadaan seperti dengan predikat juara yang diraih status seseorang bisa menjadi lebih baik atau lebih tinggi?
Menjadi juara bukan cuma soal piala atau medali. Efeknya ketika seseorang bisa meraih predikat juara dalam kompetisi yang diikutinya bisa ke diri sendiri dan ke lingkungan sekitar biasanya cukup besar:
Saat usaha terbukti membuahkan hasil, orang jadi lebih percaya sama kemampuannya. Rasa "aku bisa" ini biasanya kebawa ke tantangan lain, bukan cuma di bidang itu saja.
Predikat juara bikin standar diri naik. Banyak yang jadi lebih disiplin latihan, cari ilmu baru, dan tidak cepat puas supaya bisa mempertahankan atau meningkatkan prestasi.
Sekolah, kampus, tempat kerja, sampai sponsor sering melirik orang berprestasi. Bisa berupa beasiswa, undangan lomba, tawaran kerja, atau kolaborasi.
Kehadiran seorang juara sering menginspirasi teman, adik kelas, atau komunitas. Tanpa sadar dia jadi bukti bahwa kerja keras itu ada hasilnya, dan itu bisa menular ke orang lain.
Lomba, kompetisi, atau ajang kejuaraan mempertemukan kita dengan pelatih, juri, dan sesama juara. Dari situ muncul mentor dan teman seperjuangan.
Proses menuju juara biasanya penuh gagal, latihan berat, dan tekanan. Setelah melewatinya, orang jadi lebih siap menghadapi kritik, kalah, dan tekanan di situasi lain.
Keluarga, sekolah, atau daerah asal juga ikut terangkat namanya. Itu memperkuat rasa memiliki dan dukungan dari lingkungan.
Intinya, predikat juara itu seperti pintu. Dia membuka akses, tapi yang bikin dampaknya bertahan lama adalah sikap setelah jadi juara, tetap rendah hati, mau berbagi, dan terus berkembang.
Dunia Modern Yang Terpacu Dengan Prestasi ( Juara )
Sekarang rasanya semua serba "harus ada bukti". Dunia modern itu mesinnya pakai bahan bakar prestasi.
Perkembangan dunia yang syarat dengan kompetisi membuat manusia butuh bukti (prestasi) dalam melakukan sesuatu hal.
Dulu saingan mungkin cuma anak sekelas atau sekantor. Sekarang saingan mendunia (global), saingannya bisa antara negara.
Perusahaan, kampus, bahkan followers IG cuma punya waktu 3 detik buat mutusin "ini orang layak diperhatiin apa nggak".
Prestasi itu bahasa cepatnya. Daripada jelasin 1 jam "saya rajin", lebih gampang tunjukin "Juara 1 Olimpiade Sains" atau "Omzet 100 juta/bulan". Prestasi jadi CV hidup.
Di era data, orang akan nanya "buktinya mana?"
IPK, followers, revenue, ranking, sertifikat, piala. Semua bisa dihitung. Makanya kita jadi terpacu. Karena kalau nggak ada angka, rasanya ketinggalan.
Pentingnya Orang Tua Hadirkan Semangat Juara ke Anak
Semangat juara bukan berarti harus selalu jadi nomor 1. Artinya adalah menanamkan sikap mau berusaha maksimal, pantang menyerah, dan berani tanggung jawab atas prosesnya.
Semangat Juara penting ditanamkan orang tua ke anak dengan beberapa pertimbangan sebagai berikut;
Anak yang punya semangat juara belajar bahwa gagal itu data, bukan vonis. Jadi pas jatuh di lomba, ujian, atau pertemanan, dia lebih cepat bangkit daripada menyerah.
Juara lahir dari kebiasaan kecil yang konsisten. Latihan, evaluasi, ulang lagi. Orang tua yang hadir di proses ini ngajarin anak bahwa hasil bagus itu hasil dari usaha, bukan keberuntungan.
Percaya diri muncul saat anak tahu "aku sudah kasih yang terbaik". Bukan karena dipuji terus, tapi karena dia merasakan progres dirinya sendiri.
Semangat juara juga berarti bisa menang dengan rendah hati dan kalah dengan lapang dada. Anak belajar menghargai lawan, tim, dan aturan.
Anak jadi punya arah. "Aku mau jadi lebih baik dari kemarin" itu bahan bakar untuk sekolah, hobi, sampai cita-cita nanti.
Demikian, mudah-mudahan ada manfaatnya bagi kita semua terutama bagi para orang tua di rumah.
Oleh: Firmansyah, S. Psi., M.MKes. Pengamat Sosial dan Tumbuh Kembang Anak.