Oleh: Sarifuddin (Feddon) Staf Sub Bagian Komunikasi Pimpinan Bagian Prokopim Sekretariat Daerah Dompu Hiruk-pikuk Piala Dunia 2026 akhirnya mencapai puncaknya. Setelah melewati perjalanan panjang yang dipenuhi drama, air mata, kejutan, dan selebrasi, kini hanya tersisa dua raksasa sepak bola dunia yang berdiri tegak di panggung terakhir: Spanyol dan Argentina.
Inilah laga yang telah dinanti jutaan pasang mata di seluruh penjuru dunia. Sebuah pertandingan yang bukan sekadar memperebutkan trofi emas paling bergengsi dalam dunia sepak bola, tetapi juga mempertaruhkan harga diri, sejarah, serta kehormatan dua bangsa yang memiliki tradisi sepak bola luar biasa.
Sepanjang turnamen, euforia membanjiri jalanan kota-kota di berbagai belahan dunia. Sorak-sorai para pendukung menggema di stadion, kafe, rumah-rumah, hingga layar-layar raksasa yang dipenuhi lautan manusia. Di balik kegembiraan itu, terselip pula kekecewaan mendalam dari para pendukung negara-negara yang harus menghentikan langkahnya sebelum mencapai partai puncak.
Bagi mereka yang sejak awal memberikan dukungan kepada Spanyol dan Argentina, kebahagiaan kini terasa begitu sempurna. Namun bagi pendukung tim-tim yang gugur di tengah jalan, final ini menjadi pengingat bahwa dalam sepak bola hanya ada satu tim yang akan berdiri sebagai juara.
Spanyol, yang dijuluki La Roja atau La Furia Roja, negeri para Matador, datang ke final dengan semangat pantang menyerah. Setiap pertandingan dijalani layaknya sebuah pertempuran. Mereka bertarung bak prajurit Sparta, tak mengenal lelah, disiplin, penuh keberanian, dan selalu percaya bahwa kemenangan adalah buah dari kerja keras, bukan keberuntungan.
La Roja melangkah ke final bukan karena kebetulan. Mereka mengalahkan lawan-lawan tangguh melalui permainan kolektif, organisasi yang rapi, penguasaan bola yang memukau, serta mental juara yang terus terasah sepanjang turnamen.
Di sisi lain berdiri sang juara bertahan, Argentina
Negeri Tango dengan julukan La Albiceleste kembali membuktikan bahwa kejayaan mereka bukan sekadar cerita masa lalu. Berstatus sebagai pemegang mahkota Piala Dunia, Argentina datang membawa beban sekaligus kebanggaan sebagai tim yang ingin mempertahankan supremasinya.
Permainan mereka begitu indah dipandang mata. Umpan-umpan pendek yang mengalir cepat, pergerakan tanpa bola yang cerdas, serta penguasaan permainan yang tenang menjadi senjata utama. Filosofi sepak bola menyerang yang mereka tampilkan membuat banyak pengamat menyebut Argentina tampil dengan gaya permainan yang memesona sepanjang turnamen.
Kini, satu pertanyaan besar menggantung di langit dunia sepak bola. Mampukah Argentina mempertahankan takhta juaranya?
Ataukah justru Spanyol yang akan merebut mahkota itu dan mengakhiri dominasi sang juara bertahan?
Tidak ada yang mampu menjawabnya sebelum peluit panjang dibunyikan.
Yang pasti, pertandingan ini bukan sekadar adu strategi dua pelatih atau duel sebelas pemain di atas lapangan. Final ini adalah benturan dua filosofi sepak bola, dua budaya, dua karakter bangsa, dan dua tekad yang sama besarnya untuk mengangkat trofi paling bergengsi di muka bumi.
Ketika wasit meniup peluit tanda dimulainya pertandingan, dunia seakan berhenti sejenak. Jutaan doa melangit, ribuan bendera berkibar, dan jutaan jantung berdetak lebih cepat mengikuti setiap sentuhan bola.
Sembilan puluh menitatau mungkin lebih akan menjadi penentu sejarah baru. Hanya satu tim yang akan mengangkat trofi Piala Dunia, sementara yang lain harus pulang dengan kepala tegak meski membawa luka.
Apakah langit akan kembali dihiasi warna biru putih milik La Albiceleste? Ataukah merah menyala milik La Roja yang akan berkibar sebagai simbol lahirnya sang juara baru?
Jawabannya akan ditentukan di atas hamparan rumput hijau, tempat keberanian, kecerdasan, kerja sama, dan semangat pantang menyerah berpadu menjadi satu. Di sanalah sejarah akan kembali ditulis, dan dunia akan mengenang Final Piala Dunia 2026 sebagai salah satu pertarungan terbesar antara Negeri Tango dan Negeri Matador.