"Karakter itu akar, literasi itu batang, dan numerasi itu cabang serta ranting. Pohon tidak akan tumbuh kuat tanpa akar yang kokoh."DONGGOVOICE.com I Bima, 260526 - Kesenjangan antara kompetensi kognitif dan ketahanan mental siswa di sekolah dasar kini coba dijembatani melalui integrasi kurikulum berbasis karakter dan literasi dasar secara simultan. Langkah konkret ini diambil oleh civitas akademika STKIP Taman Siswa (Tamsis) Bima melalui program pengabdian masyarakat di MIN 1 Tolobali, Kota Bima, guna menciptakan ekosistem pendidikan yang bersih dari praktik perundungan (bullying).
Inisiatif ini menjadi krusial mengingat maraknya kasus kekerasan di lingkungan satuan pendidikan yang seringkali berakar dari lemahnya penanaman nilai karakter sejak dini. Melalui pendekatan multidisiplin, program ini menargetkan penguatan literasi dan numerasi bukan sekadar sebagai capaian akademik, melainkan sebagai instrumen untuk membangun empati dan kesadaran sosial siswa.
Data di lapangan menunjukkan bahwa lingkungan belajar yang aman berbanding lurus dengan pemahaman literasi yang baik di kalangan pendidik dan peserta didik. Dalam implementasinya, kegiatan ini membagi fokus intervensi ke dalam tiga klaster utama: pendampingan pedagogi bagi guru, edukasi interaktif untuk siswa kelas rendah, serta layanan penunjang kesehatan fisik bagi seluruh warga sekolah.
Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Assoc. Prof. Dr. H. Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si., menekankan bahwa keberhasilan transformasi pendidikan sangat bergantung pada kekuatan nilai fundamental yang ditanamkan pada level dasar. Menurutnya, kegagalan dalam membangun karakter akan membuat aspek intelektual lainnya menjadi rapuh dan tidak memiliki arah yang jelas.
"Karakter itu akar, literasi itu batang, dan numerasi itu cabang serta ranting. Pohon tidak akan tumbuh kuat tanpa akar yang kokoh. Begitu juga literasi dan numerasi, tidak akan berkembang tanpa adanya karakter yang kuat," ujar Ibnu Khaldun saat memaparkan materi di hadapan tenaga pendidik MIN 1 Tolobali.
Analisis terhadap pola pengajaran di tingkat dasar menunjukkan perlunya metode asesmen yang lebih spesifik. Sebagai tindak lanjut, tim akademisi STKIP Tamsis Bima telah merancang pendalaman materi matematika melalui pendekatan KGA (Konsep, Gambar, Abstrak) serta evaluasi literasi menggunakan instrumen ASI ASLI yang dijadwalkan pada pertemuan mendatang.
Di sisi lain, keterlibatan dosen dari Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) memberikan dimensi berbeda melalui layanan pemeriksaan kesehatan dan spa terapi bagi para guru. Upaya ini dilakukan untuk menjaga kesejahteraan psikofisik pendidik yang menjadi garda terdepan dalam menghadapi dinamika perilaku siswa di sekolah.
Kepala MIN 1 Tolobali Kota Bima, H. Irfan, S.PdI., M.Pd., mengonfirmasi bahwa sinergi ini diharapkan mampu mengikis potensi perundungan secara sistematis di lingkungan sekolahnya. Pihak sekolah memandang kehadiran fasilitator daerah dari perguruan tinggi mampu memberikan pembaruan perspektif dalam menangani kasus-kasus karakter yang kompleks.
Program pengabdian ini diproyeksikan menjadi model percontohan bagi sekolah-sekolah lain di Kota Bima dalam mengintegrasikan program anti-perundungan ke dalam kurikulum literasi nasional. Fokus jangka panjang diarahkan pada pembentukan generasi yang memiliki kecerdasan intelektual sekaligus stabilitas emosional yang mumpuni. Reporter: Fiq