*Oleh: Firmansyah*
Karena sesuatu dan lain hal yang menyebabkan angka kesakitan pasien tinggi dan dalam upaya meningkatkan derajad kesehatannya membuat pasien meminta dirawat inap adalah sesuatu yang sangat manusiawi untuk mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan seperti RSUD.
Adanya kendala baik teknis maupun prosedural yang dialami fasilitas kesehatan lainnya seperti Puskesmas menyebabkan membludaknya pasien yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah adalah hal yang tidak bisa dihindarkan.
Kendala teknis dan prosedural yang dialami beberapa Puskesmas dalam melayani kesehatan masyarakat khususnya pelayanan rawat inap mau tidak mau suka ataupun tidak suka harapan satu-satunya masyarakat bisa dilayani di RSUD.
Membludaknya masyarakat yang meminta dilayani rawat inap di RSUD berdampak pada terbatasnya sarana prasarana yang dimiliki RSUD terutama ketersediaan kamar mempengaruhi estetika (keindahan) dalam pelayanan kesehatan oleh para tenaga kesehatan.
Ketersediaan kamar yang tidak seimbang (terbatas) dengan jumlah pasien yang harus di rawat inap membuat pasien menempati ruang (kamar) yang tidak sesuai peruntukannya (over kapasitas).
Di tengah keadaan yang seperti ini yang terjadi di RSUD kesehatan mental yang prima dari para petugas kesehatan sangat diharapkan. Saat kesehatan mental para petugas kesehatan prima dapat diupayakan dengan baik dan terarah maka sesulit apapun keadaan (tantangan) saat memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien akan bisa dihadapi dengan baik.
*Kesehatan Mental Petugas Kesehatan*
Kesehatan mental petugas kesehatan adalah kondisi kesejahteraan emosional, psikologis, dan sosial yang memungkinkan para petugas Kesehatan saat memberikan pelayanan Kesehatan kepada para pasien dapat mengelola stres tinggi, bekerja produktif, dan berempati saat merawat pasien.
Kesehatan mental dimaksud melibatkan tenaga kesehatan mampu mengatasi tekanan kerja, shift panjang, dan risiko trauma, yang krusial untuk menjaga kinerja optimal dan mencegah gangguan seperti stres, kecemasan, atau burnout.
*Dampak Positif Saat Petugas Kesehatan Memiliki Kesehatan Mental Prima*
Ketika petugas kesehatan dalam bekerja melayani pasien memiliki kesehatan mental prima, dampak positif yang muncul tidak hanya dirasakan secara pribadi akan tetapi juga berdampak signifikan pada kualitas pelayanan pasien dan lingkungan kerja secara keseluruhan.
Bila disebutkan beberapa dampak positif dimaksud adalah;
*Peningkatan Kualitas Pelayanan dan Keselamatan Pasien.*
Petugas dengan mental prima lebih mampu memberikan perhatian penuh, mengurangi tingkat kesalahan dalam tindakan medis, dan menunjukkan empati yang lebih tinggi kepada pasien.
*Peningkatan Produktivitas dan Performa Kerja.*
Kesehatan mental yang baik meningkatkan konsentrasi, motivasi, serta kemampuan untuk beradaptasi dengan beban kerja yang tinggi.
*Ketahanan (Resiliensi) yang Lebih Tinggi.*
Petugas mampu bangkit kembali dari situasi kerja yang penuh tekanan, emosional, atau traumatis (seperti pandemi) dengan lebih cepat.
*Komunikasi dan Kerja Sama Tim yang Lebih Baik.*
Kondisi psikologis yang sehat memudahkan petugas Kesehatan bisa berinteraksi secara baik dan terarah dengan rekan sejawat, yang berdampak pada kerja sama tim yang lebih efektif dan lingkungan kerja yang kondusif.
Strategi dimaksud bisa dilaksanakan dengan beberapa upaya sebagai berikut;
*Dukungan Organisasi.*
Institusi layanan kesehatan harus menyediakan akses ke layanan bantuan darurat dan konseling untuk mengatasi masalah kesehatan mental yang muncul.
*Keseimbangan Kerja-Hidup.*
Upaya aktif untuk menciptakan keseimbangan yang lebih baik antara kehidupan profesional dan pribadi.
*Teknik Relaksasi.*
Menerapkan meditasi kesadaran (mindfulness) untuk meningkatkan ketahanan mental.
*Advokasi Individu.*
Tenaga kesehatan perlu mendorong perbaikan dukungan kesehatan mental di lingkungan kerja mereka.
*Harapan Perbaikan Pelayanan Kesehatan Di Tengah Keterbatasan.*
Di tengah efisiensi anggaran yang terjadi daya guna atau dedikasi dan semangat kerja dari para petugas Kesehatan dalam melayani pasien diharapkan dapat terjaga dengan baik yang dampaknya peningkatan performa kerja.
OPD yang secara teknis bertanggungjawab terhadap pelayanan kesehatan di puskesmas agar mengkaji secara mendalam kendala yang menyebabkan pelayanan rawat inap tidak bisa dilakukan kemudian melengkapi hal-hal teknis dan prosedural yang memungkinkan pelayanan rawat inap di puskesmas bisa dilakukan.
Kerjasama semua pihak memberikan edukasi yang mencerahkan bagi masyarakat untuk tetap bersabar dan tangguh di setiap keadaan. Situasi-situasi diluar kendali manusia bisa saja terjadi sehingga faktor kesabaran sangat dibutuhkan.
Demikian, mudah-mudahan uraian dimaksud ada manfaatnya untuk kebaikan kita semua dalam pelaksanaan tugas dan fungsi di tempat tugas.
