Hennoy sayang, kamu maukan menjadi bunda dari anak-anak kita nantinya. "Yah, jelas maulah ujar si Hennoy menjawab candaan Siang Hay yang duduk di sebelahnya. Kamu juga mau kan nantinya menjadi Ayah yang baik dan bijaksana dari buah hati kita berdua kembali Si Hennoy menimpali Si Siang Hay yang duduk di sebelahnya.
"Yah jelas aku maulah, jawab Si Siang Hay dengan penuh kemesraan sambil mencubit Si Hennoy yang duduk di sebelahnya.
Untuk diketahui bahwa Si Siang Hay dan Si Hennoy ini adalah seorang suami dan istri belum genap setahun menikah (berumah tangga).
Mereka berdua adalah pasangn suami dan istri muda yang sedang merencanakan untuk punya anak (buah hati).
Di satu setengah tahun rumah tangga mereka kehadiran ujian dan cobaan. Di satu tahun setengah usia pernikahan mereka kesetiaan, kasih dan sayang mereka tengah dalam ujian.
Usia mereka yang masih mudah tidak secara keseluruhan membuat mereka bisa dewasa untuk menjadi orang yang dewasa ketika punya masalah.
Hanya karena angin, badai, topan dan gelombang kecil saja ego mereka mudah tersulut.
Saat ada problem rumah tangga yang dirasa pelik antara Si Hennoy dan Si Siang Hay dan keduanya saling memelihara egonya masing-masing tanpa ada yang mau mengalah keduanya pun berubah.
Dampak dari problem atau ego yang tidak salah satunya mau mengalah namun hanya mau menang sendiri yang muncul semunya berperan menjadi api tanpa ada yang mau menjadi air.
Karena ego yang terpelihara secara kuat membuat keduanya menjadi sosok yang saling asing dalam rumah tangga mereka sendiri.
Seharus bila ada problem yang dirasa pelik salah satu dari keduanya ada yang berperan menjadi air bukan dua duanya menjadi api yang membuat mereka tidak sejuk dan damai lagi.
Cerita di awal pernikahan yang ingin menjadi Ayah ataupun pun Bunda bagi buah hati mereka pun terlupakan karena dibakar oleh ego yang tidak mau saling mengalah.
Ego yang terpelihara dengan kencang membuat mereka tidak punca cukup tenaga untuk kembali merajut kembali perjalanan indah diantara mereka berdua.
Bagaimana kita melihat kasus diatas. Adakah peluang bagi pasangan rumah tangga yang tengah memelihara egonya untuk kembali rujuk menjalani hidup berkeluarga yang harmonis?
Memelihara ego secara berlebihan sangat berbahaya karena dapat merusak hubungan sosial, memicu stres akibat tuntutan validasi yang konstan, dan menghambat pertumbuhan diri.
Sikap selalu ingin menang dan merasa paling benar akan membuat seseorang terisolasi dan dijauhi oleh lingkungan sekitarnya bahkan dengan pasangan suami istri sendiri.
Sikap egois sering kali membuat orang lain (pasangan suami istri) merasa tidak dihargai, memicu konflik, dan mengikis kepercayaan, baik dalam pertemanan maupun hubungan asmara.
Kebiasaan mendahulukan diri sendiri secara berlebihan dapat membuat orang-orang (pasangan suami istri) menjauh, yang akhirnya berujung pada rasa kesepian.
Orang dengan ego tinggi umumnya enggan menerima kritik dan masukan. Hal ini menutup diri dari wawasan baru dan membuat seseorang menjadi stagnan.
Keinginan untuk selalu terlihat sempurna, lebih unggul, dan menuntut validasi konstan dari orang lain bisa sangat melelahkan dan menjadi sumber kecemasan.
Ego sering kali memiliki keserakahan. Saat seseorang selalu fokus pada diri sendiri dan tidak memperhatikan pasangannya, membuat yang bersangkutan akan sulit bersyukur.
Dari uraian diatas memelihara ego secara berlebihan membuat seseorang tertutup mendapat solusi dari problem yang dihadapinya. Mengalah dengan sedikit mengecilkan ego bukan berarti kita menjadi orang yang kalah namun sebaliknya membuat diri kita semakin mempesona dan memberi peluang bahagia bagi kehidupan rumah tangga yang sedang dijalani.
Demikian pencerahan ini, semoga ada kebaikan dibalik uraian ini untuk bisa dipetik bagi kita semua.
Penulis: Firmansyah, S.Psi., M.MKes, Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Berdomisili di Kabupaten Dompu.