Oleh: Drs. H. Mustahid, H. Kako, MM
Kita di Bima dan Jawa sering mencampur empat kata ini, padahal lapis maknanya berbeda jauh.
1. SEMBAH: Sikap Manusia
Sembah adalah etika. Ia ada sebelum agama. Anak sembah kepada ina-ama, rakyat sembah kepada raja, bahkan seseorang menitip salam : sembah sujud sama seseorang.... Gerakannya menundukkan kepala, merendahkan diri.
Sembah tidak selalu ibadah, ia bisa sekadar budaya hormat. Tapi dalam Tauhid, sembah ini yang diluruskan: _jangan sembah selain Aku_ (Thaha:14). Jadi sembah adalah soal kepada SIAPA kita merendahkan diri.
2. SUJUD: Titik Puncak Sembah
Jika sembah masih berdiri menunduk, sujud adalah keruntuhan total. Dahi, hidung, kedua telapak tangan, lutut, ujung kaki menyentuh tanah. Tidak ada posisi manusia yang lebih hina dari ini.
Makanya dalam Islam, sujud hanya untuk Allah. Malaikat diperintahkan sujud kepada Adam sebagai penghormatan, bukan penyembahan. Iblis menolak sujud karena sombong, bukan karena tauhidnya kuat. Sujud adalah batas: di situ ego manusia benar-benar mati.
3.SEMBAHYANG: Jembatannya Walisongo, Sembah + Hyang. Hyang adalah istilah Kapitayan, kejawen, Hindu-Buddha untuk yang luhur, yang tak terlihat.
Walisongo cerdas, mereka tidak hapus kata ini. Mereka isi ulang maknanya. Sembahyang yang dulu ke Hyang di gunung, sekarang diarahkan ke Allah. Ini strategi dakwah kultural. Makanya sampai hari ini nenek kita masih bilang "sudah sembahyang lohor?"
Sembahyang itu istilah payung, inklusif, nusantara.
4. SHOLAT: Perjanjian Presisi
Sholat datang dari bahasa Arab washilah- penghubung. Sholat bukan sekadar sembah, ia adalah perjanjian yang ada SOP-nya. - Ada waktunya: 5 waktu, tidak bisa seenaknya - Ada syaratnya: suci, wudhu, kiblat- Ada rukunnya: takbir sampai salam, kalau kurang batal-Ada bacaannya: harus ada Al-Fatihah
Kalau sembahyang adalah cinta yang menggebu, sholat adalah pernikahan yang ada akadnya. Cinta butuh aturan agar tidak liar.
KESIMPULAN OPINI:
Orang bisa sembah tanpa sujud, bisa sembahyang tanpa sholat, tapi orang yang sholat pasti sudah melewati sembah dan sujud.
Masalah kita hari ini: banyak yang masih di level _sembah_ (hormat-hormat budaya), sudah merasa _sholat_. Padahal sholat menuntut disiplin, waktu, dan kebersihan hati yang tidak ada di sembah biasa.
_Innanī Anallāhu Lā Ilāha Illā Anā, Fa'budnī wa aqimis-sholāta li dzikrī_ - Sembahlah Aku, dan dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku. Allah tidak bilang "sembahyanglah", tapi "dirikanlah sholat". Karena mengingat itu butuh tiang, bukan sekadar niat.
