INOVASI Perkuat Kapasitas Fasilitator Numerasi di Kabupaten Bima dan Dompu

Langkah strategis ini diambil sebagai respons terhadap temuan lapangan yang menunjukkan bahwa rendahnya performa matematika di tingkat sekolah dasar berakar pada persoalan sistemik dalam praktik mengajar. Fokus utama program ini adalah memperkuat fondasi numerasi, termasuk kepekaan bilangan (number sense), pemahaman nilai tempat, dan makna operasional melalui pengambilan keputusan instruksional yang lebih sadar dan konsisten.

Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (DIKPORA) Kabupaten Bima, Fatahurahman, menegaskan bahwa peran pengawas pendidikan kini harus bertransformasi dari sekadar fungsi supervisi administratif menjadi pendamping kualitas pembelajaran. Menurutnya, kegagalan pencapaian literasi numerasi sering kali bukan disebabkan oleh keterbatasan murid, melainkan rancangan pembelajaran yang kurang mendiagnosis kebutuhan siswa. 

"Kehadiran pengawas sebagai fasilitator menjadi kunci dalam mendorong perubahan praktik mengajar yang lebih sadar, sederhana, dan konsisten. Kami berharap pengawas dapat menjadi penggerak dalam menghadirkan pembelajaran matematika yang membangun penalaran dan kepercayaan diri murid, bukan sekadar mengikuti alur buku teks," ujar Fatahurahman saat memberikan sambutan resmi dalam pembukaan kegiatan tersebut.

Program ini menghadirkan kolaborasi lintas lembaga, melibatkan pakar dari Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika (Gernastastaka) seperti Setiawan Agung Wibowo dan Trimadona. Spesialis Solusi Digital dan Numerasi INOVASI Jakarta, Andika Dewantara, serta Koordinator Pendidikan INOVASI NTB, Ali Akrom, turut memberikan kerangka kebijakan yang diintegrasikan dengan materi Pembelajaran Bermakna untuk Matematika.

Selain narasumber dari lembaga nasional, Hikmah Ramdhani selaku akademisi dari PGSD Universitas Mataram (UNRAM) hadir untuk memperkuat aspek pedagogis. Peserta yang terdiri dari pengawas Pendidikan Kebudayaan (Dikbud), pengawas Kementerian Agama (Kemenag), serta dosen dari LPTK STKIP Taman Siswa Bima dan YAPIS dibekali kemampuan untuk mendiagnosis hambatan belajar dan merancang alur pembelajaran yang personal bagi setiap murid.

Secara teknis, pelatihan ini menekankan pada konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang selaras dengan arah kebijakan nasional. Fasilitator dilatih untuk membantu guru merefleksikan praktik mengajar yang selama ini cenderung terpaku pada kalender akademik tanpa memastikan pemahaman siswa terhadap akar masalah matematika.

Integrasi dokumen kebijakan sebagai landasan konseptual utama diharapkan mampu menciptakan standarisasi fasilitasi numerasi di wilayah tersebut. INOVASI mengidentifikasi bahwa tanpa adanya perubahan pada level fasilitator dan pengawas, kebijakan kurikulum baru akan sulit diimplementasikan secara efektif di ruang-ruang kelas yang memiliki kesenjangan sumber daya tinggi.

Pasca kegiatan ini, para peserta direncanakan akan melakukan pendampingan langsung ke satuan pendidikan di bawah naungan Dikbud dan Kemenag di Bima dan Dompu. Fokus jangka pendek adalah memonitoring perubahan metode pengajaran guru di kelas-kelas dasar awal guna memastikan fondasi numerasi kuat sebelum siswa melanjutkan ke tingkatan lebih tinggi.

Pihak penyelenggara menyatakan bahwa evaluasi berkala akan dilakukan untuk melihat dampak perubahan metode ini terhadap skor numerasi di tingkat kabupaten. Inisiatif ini menandai pergeseran paradigma pendidikan di NTB, dari sekadar pemenuhan jam pelajaran menjadi penguasaan kompetensi dasar matematika yang inklusif. Reporter: Fiq

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama