Oleh: Syafruddin, M.Pd.I
Di tengah arus globalisasi yang bergerak cepat, modernitas sering hadir bukan hanya sebagai kemajuan, tetapi juga sebagai godaan. Ia menawarkan kemudahan, namun sekaligus mengikis makna. Ia menjanjikan kebebasan, tetapi perlahan mereduksi kedalaman nilai. Di ruang-ruang inilah, Ramadhan hadir bukan sekadar bulan ibadah, melainkan momentum transformasi—baik spiritual maupun kultural.
Bagi masyarakat Bima, nilai maja labo dahu bukan sekadar semboyan adat. Ia adalah jiwa peradaban. Maja berarti malu berbuat salah terhadap sesama manusia, dan dahu berarti takut—bukan takut kepada manusia, melainkan takut melanggar ketentuan dan ketetapan Allah. Falsafah ini membentuk etika sosial, menjadi pagar moral, dan menuntun harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.
Namun, di tengah godaan zaman—media sosial yang tanpa batas, gaya hidup konsumtif, dan krisis keteladanan—nilai ini menghadapi tantangan serius.
Di sinilah Ramadhan menemukan relevansinya. Ramadhan dalam ajaran Islam adalah madrasah ruhani. Allah menegaskan tujuan puasa dalam Al-Qur’an: la’allakum tattaqun—agar kamu bertakwa. Takwa adalah kesadaran batin yang melahirkan kontrol diri.
Dalam perspektif budaya Bima, takwa menemukan resonansinya dalam maja labo dahu. Malu untuk berbuat salah, takut melanggar ketentuan Ilahi. Dengan demikian, Ramadhan sejatinya bukan hanya ritual tahunan, tetapi proses penguatan kembali identitas kultural yang religius.
Godaan zaman hari ini bukan sekadar persoalan ekonomi atau teknologi. Ia menyentuh ranah paling dalam: mentalitas. Kita menyaksikan fenomena hedonisme yang mengaburkan makna kesederhanaan, budaya pamer yang menggerus keikhlasan, serta pergeseran nilai yang membuat rasa malu perlahan memudar. Dalam konteks ini, maja labo dahu sering tereduksi menjadi slogan seremonial, kehilangan daya transformasinya.
Ramadhan menawarkan perlawanan sunyi terhadap krisis tersebut. Puasa melatih disiplin, menahan diri dari yang halal demi ketaatan kepada Allah. Jika yang halal saja kita tahan, apalagi yang haram. Di sini nilai maja menemukan aktualisasinya: rasa malu untuk melanggar norma, malu berkhianat pada amanah, malu menyakiti sesama. Sementara dahu hidup dalam kesadaran bahwa setiap perbuatan diawasi oleh Yang Maha Melihat.
Transformasi budaya melalui Ramadhan berarti menghidupkan kembali kesadaran kolektif bahwa identitas Bima bukan hanya terletak pada simbol adat, tetapi pada praktik etika sehari-hari. Ketika pejabat malu korupsi, ketika pemuda malu melakukan kekerasan, ketika keluarga malu membiarkan anak-anaknya kehilangan arah moral—di situlah maja labo dahu benar-benar hidup. Ramadhan juga memperkuat dimensi sosial dari budaya ini.
Tradisi berbagi takjil, zakat, infak, dan sedekah mempererat solidaritas. Nilai kebersamaan ini menjadi benteng menghadapi individualisme modern. Puasa mengajarkan empati—merasakan lapar agar memahami derita. Dalam bahasa budaya, ini adalah revitalisasi rasa kemanusiaan.
Sebagai seorang akademisi yang menaruh perhatian pada dinamika Islam kontemporer, saya melihat bahwa tantangan terbesar masyarakat kita bukan sekadar perubahan struktural, tetapi krisis makna. Di sinilah Ramadhan memiliki potensi epistemologis dan sosiologis: ia membentuk kesadaran, bukan hanya perilaku; membangun karakter, bukan hanya kepatuhan formal.
Jika Ramadhan hanya berhenti pada seremonial—tarawih yang ramai namun akhlak tetap lengang—maka transformasi itu gagal. Tetapi jika Ramadhan mampu menghidupkan kembali maja labo dahu sebagai etika sosial, maka ia menjadi energi kebangkitan moral.
Pertanyaannya: apakah kita akan menjadikan Ramadhan sekadar rutinitas, atau momentum revolusi batin?
Zaman digital membawah kemudahan sekaligus godaan.
Budaya pamer, ujaran kebencian, hoaks dan hedonisme seringkali mengikis sensifitas moral manusia. Rasa malu bergeser menjadi sekedar rasa malu karena tidak viral, rasa takut bukan lagi takut melanggar nilai tetapi takut kehilangan. Maja labo dahu bukan nostalgia masa lalu; ia adalah kompas arah masa depan. Dan Ramadhan adalah saat terbaik untuk mengasah kembali kompas itu.
Ramadhan hadir sebagai momentum koreksi, ia memanggil manusia pada keheningan batin, menata ulang orientasi hidup dan merefleksikan kembali nilai-nilai yang hampir terpinggirkan. Puasa bukan hanya sekedar kewajiban indifidual, tetapi gerakan kultural yang dapat menghidupkan kembali kesadaran kolektif.
Sebab pada akhirnya, peradaban tidak karena runtuh karena kemiskinan materi, tetapi karena kehilangan rasa malu dan takut kepada Tuhan.
Ramadhan datang setiap tahun. Tetapi transformasi hanya terjadi pada mereka yang sungguh-sungguh membiarkan dirinya ditempa. Maka mari kita jadikan bulan suci ini bukan sekadar ibadah personal, melainkan gerakan kebudayaan—menghidupkan kembali maja labo dahu sebagai denyut nadi kehidupan Bima di tengah godaan zaman. Karena ketika rasa malu hilang, kehormatan ikut tumbang. ketika rasa takut kepada Allah memudar, arah hidup pun menjadi kabur.
