"Kalempe" Menu Khas Tio Rana Dou Donggo

Oleh : Hambaly Ama La Beby 

Dou Donggo ( orang Donggo, red ) mendiami wilayah kabupaten Bima sebelah Barat atau Dou Donggo Ipa bermukim di sebelah barat teluk Bima yaitu di gugusan pegunungan Soromandi. Sejak berabad abad Dou Donggo hidup dengan bermata pencaharian bertani atau berladang secara berpindah-pindah dari satu tempat ke lokasi lain.  

Kebiasaan tersebut mencari lahan yang lebih subur dan membuka lahan baru karena menurut kebiasaan warga setempat ( zaman dulu ) bahwa bercocok tanam berpindah akan membawa hasil lebih baik. 

Bercocok tanam tadah hujan sekali setahun mampu menghidupkan keluarga sekaligus menyekolahkan anak-anaknya. Jenis tanaman seperti padi, jagung dan jenis padipun terdiri dari padi Ketan ( putih, hitam, merah),  padi (fare miro, na'e). Padi-padi tersebut masih terbagi lagi sebagai kebutuhan, ada untuk kebutuhan pokok tiap hari (konsumsi) yang menjadi menu tiap hari seperti Bongi Bura ) berasal dari padi (fare) miro, na'e tadi, sementara Beras Ketan berasal dari padi ketan bukan merupakan jenis konsumsi keseharian, tapi beras ketan tersebut dimanfaatkan jikalau ada acara khusus atau khas ketika putra-putrinya usai melaksanakan nikah, maka saat itulah mereka manfaat beras ketan untuk dibuatkanlah "Kalempe" (semacam kue bersegi, bumbu kelapa parut campur gula) sebagai syarat Tio Rana/Riana (kunjungi Mertua).

"Kalempe" itu bukan sembarang orang membuatnya, tapi dibuat oleh wanita yang memiliki keahlian (menu skill) seperti bagaimana proses ( step ) terjadinya 'Kalempe" tersebut hingga menjadi hidangan yang sedap, manis, gurih, empuk, lezat.

Lalu procedurenya bagaimana membuat adonan tersebut, ikuti Step ( Langkah berikut ):

Step 1. Siapkan padi ketan secukupnya sesuai kebutuhan. Step 2. Tumbuk dengan menggunakan Nocu (Lesung) dengan Aru (alu) hingga jadi beras. Step 3. Rendam beras sekitar lebih kurang 2 atau 3 jam. Step 4. Tumbuk ( giling, zaman now ) hingga halus. Step 5. Beras sudah digiling tadi siap dibuatkan adonan "Kalempe" berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 20x25mm. Step 6. Siapkan bahan (bumbu) seperti: Kelapa diparut (giling, sekarang), gula putih atau merah. Step 7. adonan bubuk beras ketan bersegi tadi dibungkus daun pisang. Step 8. Direbus gunakan wadah (panci) besar selama lebih kurang 3 jam hingga benar-benar matang

 Step 9. Setelah matang, bungkusan daun pisang dibuka dan dibuang. Step 10. Adonan matang tadi ditabur bumbu kelapa parut dan gula. Step 11. Siap dihidangkan. 

Menurut Ina Ndio  dan Siti Jaleha dan  sejumlah sesepuh bahwa untuk Tio Rana ( Kunjung Mertua ) harus dengan "Kalempe" atau Timbu tapi nasi Bambu ini tidak seistimewa Kalempe itupun dibuat sendiri tidak boleh dibeli hasil bikin orang lain, kecuali diundang untuk sama-sama membuat di rumah yang punya hajatan kunjung mertua (Tio Rana).

Tradisi Turun temurun tersebut hingga sekarang masih berlangsung diberlakukan di kalangan Warga Donggo setelah menikahkan putra putrinya, kalau tidak Kunjung Mertua ( Tio Rana ) dianggap membangkang atau acuh terhadap nilai-nilai akar budaya kebiasaan suatu wilayah. Hampir seluruh wilayah Donggo, masyarakatnya masih terpatri adat Tio Rana ( Kunjung Mertua ) dilaksanakan ketika selesai menikahkan putra putrinya. 

Tio Rana  merupakan keharusan bagi Dou Donggo sebagai bentuk kecintaan menantu perempuan kepada keluarga suami ( laki-laki ). Bagi Dou Donggo pihak keluarga laki-laki dari pasangan tersebut merupakan simbol ketaatan pihak perempuan untuk diangkat derajatnya. Dan setelah Tio Rana ( Kunjung Mertua ), pihak orang tua laki memberi umpan balik atas Tio Rana (Kunjung Mertua ) itu berupa tali hewan piaraan seperti Kerbau, sapi atau kambing dan bisa juga berupa uang tunai. Kalau diberi tali kerbau berati kerbaulah yang didapat begitu seterusnya, tapi jika berupa uang, maka didapat uang tunai. 

Tradisi Tio Rana ( Kunjung Mertua ) biasanya dikawal oleh beberapa orang keluarga dekat dari perempuan sambil membawa "Kalempe" dimasukkan ke dalam baskom atau panci dan proses pembuatan "Kalempe" tersebut memakan waktu tidak terlalu lama ( lebih kurang 1 pekan ). 

Sebagai contoh, sekitar tahun 1960an (_Penulis masih ingat_) warga O'o Donggo Bima Laki-laki kawin dengan warga Desa Karamabura Dompu ( perempuan ), maka pihak perempuan harus rela melintasi gunung mulai Karamabura Dompu menuju O'o Donggo Bima  membawa "Kalempe" sebagai Tio Rana ( Kunjung Mertua ) dan biasanya pihak keluarga perempuan datang secara rombongan dan "Kalempe" tadi dipikul laki-laki, sementara beberapa perempuan mengiringi sang istri laki-laki tadi.

Sampai di rumah mertua, disambut dengan gembira ria, disajikan makanan seperti: nasi, ayam kampung, pisang, dan biasanya bermalam sampai sepekan bahkan sebulan. Itu dulu. Sekarang zaman berubah, maka cara dan prosesnya mudah. "Kalempe" hasil Tio Rana tadi disamping dikonsumsi keluarga juga dibagikan ke tetangga dan hari itu juga dihabiskan.

Menurut Tokoh Donggo   (Ketua LAMDO Senior),  Drs. H. Sanusi H. Rasyid menyebutkan bahwa  "Riana yang disambangi adalah terdiri dari; RIANA UTAMA ( ORTU LAKI ).RIANA SAMBUNG DARI KELUARGA AYAH SI SUAMI ( DUA, AMANTOI, MANCA ). KELUARGA IBU SUAMI ( DUA, INANTOI, ORI ).

Selain itu, kata Pensiunan guru SMAN 1 Dompu itu "Sahabat dekat Ayah & Ibu, tapi jarang terjadi. Si mantu menyertan Kain Sarung Hitam dan bakal baju untuk Mertua Utama , sedangkan mertua sambung cukup Kain sarung aja."

KA N C A' A yaituMerupakan pemberian dari pihak mereka utama maupun sambung diberi nama Kanca'a sebagai tanda sukacita atas kehadiran sang mantu bersama keluarga.

Adapun wujud dari Kanca'a adalah Tali yang ditaruh di Belanga yang diisi KALEMPE tadi, Tali ukuran besar berarti  Kancaanya seekor kerbau, Tali ukuran tanggung berarti Kancaanya seekor kuda, dan Tali kecil berarti Kancaanya seekor kambing.

Keluarga terdekat mertua perempuan  juga memberikan sejumlah perabot dapur kepada mantu sebagai Kanca'a ( cinderamata ) seperti: sendok, panci, piring, gelas, mangkuk, ember.

Pengambilan Kanca'anya tidak langsung pada hari itu, melainkan dalam waktu yang akan datang sekitar 2-3 bulan, bahkan dapat diamanahkan pemeliharaannya kepada mertua secara umum." (Drs. H. Sanusi 21/2/2026).

Catatan: _Tulisan ini bukan menggurui, tapi butuh masukan dari semua pihak agar lebih sempurna_. O'o Dompu, 20/2/2026

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama