Filosofis Donggo menyatakan : sahe Rangga tuntut ncao di Ade diwu, Made mpoi ba karondo (dalam bahasa Indonesia : kerbau jantan saling berantam disungai/bendungan yang mati adalah udang kecil) ini sindiran terhadap penguasa berantam dengan eks penguasa, jenderal berantam antar jenderal yang aktif dengan tidak aktif, tapi rakyat jelata mati kelaparan.
Drama itu yang dimaksud dipertunjukkan di publik hari ini, saling menyerang baik fisik melalui demo maupun non fisik melalui analisa-analisa dstnya.
Serangan Bertubi-tubi ke Prabowo: Perang Para Raksasa, Rakyat yang Jadi Korban
Serangan dan ujian terhadap pemerintahan Prabowo Subianto hari ini datang bertubi-tubi. Ibarat perang modern, serangannya lengkap: dari darat, dari udara, dan dari laut.
Dari darat diserang lewat demo-demo jalanan yang dimobilisasi. Dari udara diserang lewat opini media, analisa pengamat bayaran, dan framing media sosial. Dari laut diserang lewat gangguan ekonomi dan manuver di bawah permukaan yang tidak terlihat publik.
Diduga kuat, serangan ini datang dari para oligarki rezim lama yang merasa lahannya terganggu. Selama ini mereka nyaman menguasai tambang, pangan, energi, dan proyek-proyek besar. Ketika Prabowo mulai bicara soal swasembada pangan, berantas mafia tambang, dan sikat korupsi, mereka kebakaran jenggot.
Tapi jangan lupa, oligarki itu tidak hitam putih. Ada juga oligarki bentukan baru di era presiden ini yang ikut membela. Karena dalam politik, tidak ada kawan abadi, yang ada kepentingan abadi. Hari ini membela, besok bisa menikam kalau kepentingannya diganggu.
Inilah yang dalam filosofi Donggo disebut:
"Sahe rangga tuntut ncao di ade diwu, made mpoi ba karondo."
Artinya dalam bahasa Indonesia: _Kerbau jantan saling beradu tanduk di sungai/bendungan, yang mati adalah udang-udang kecil._
Sangat tepat untuk menyindir kondisi hari ini. Penguasa berkelahi dengan eks penguasa. Jenderal aktif beradu strategi dengan jenderal purnawirawan. Konglomerat lama perang dengan konglomerat baru. Mereka berantam di atas, yang mati kelaparan di bawah adalah rakyat jelata.
Drama itulah yang dipertontonkan ke publik hari ini. Saling serang secara fisik melalui demo-demo yang dibayar, dan saling serang non-fisik melalui analisa-analisa di TV, podcast, dan kolom-kolom opini yang seolah netral padahal pesanan.
Rakyat hanya jadi penonton yang bingung, sekaligus korban yang menanggung akibatnya. Harga kebutuhan naik, lapangan kerja seret, tapi para elit sibuk berebut siapa yang paling berkuasa.
Pesan orang Donggo itu jelas: berhentilah mengadu kerbau di sungai yang jernih. Karena kalau kerbau terus bertarung, air menjadi keruh, dan udang-udang kecil tidak bisa hidup.
