DONGGOVOICE.com I Bima, 030526 – Pemerintah Kabupaten Bima melalui Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Dikbudpora) memperluas jangkauan program penguatan pendidikan karakter di sekolah dasar melalui penambahan 20 sekolah sasaran baru. Perluasan tersebut diperkuat melalui Surat Keputusan Kepala Dikbudpora Kabupaten Bima Nomor 188.4/574/01.1/B/2026 tentang penetapan sekolah sasaran literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. Kebijakan ini menunjukkan bahwa penguatan karakter kini menjadi agenda strategis daerah yang dipadukan dengan peningkatan mutu literasi dan numerasi sekolah dasar.
Perluasan ini merupakan dampak positif dari gerakan awal yang digerakkan bersama STKIP Taman Siswa Bima dan Pemerintah Kabupaten Bima pada 14 sekolah prioritas karakter. Dengan penambahan tersebut, total sekolah sasaran kini mencapai 34 satuan pendidikan dasar. Langkah ini menandai meningkatnya kepercayaan pemerintah daerah terhadap model pendampingan berbasis refleksi, data, dan kolaborasi yang tengah dijalankan pada 14 sekolah awal.
Pemerintah Kabupaten Bima melalui Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Dikbudpora) secara resmi memperluas jangkauan program penguatan pendidikan karakter dari 14 sekolah sasaran menjadi 34 satuan pendidikan dasar. Penambahan 20 sekolah pengimbasan ini menandai peningkatan cakupan intervensi sebesar 142 persen guna melakukan penguatan pendidikan karakter ke dalam sistem pembelajaran inti di wilayah tersebut.
Pendampingan pada 14 sekolah yang didorong oleh STKIP Taman Siswa Bima bertujuan mendorong pergeseran praktik pendidikan karakter, dari kegiatan seremonial menuju pembiasaan nyata yang terintegrasi dalam pembelajaran dan budaya sekolah. Signifikansi program ini terletak pada upaya sistematis untuk menyeimbangkan penguatan karakter moral dengan karakter kinerja yang selama ini dinilai belum terpetakan secara optimal dalam budaya sekolah.
Program strategis ini dikelola melalui kemitraan antara STKIP Taman Siswa Bima sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) penggerak, dengan dukungan teknis dari INOVASI NTB dan Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTB. Sebagai motor penggerak, STKIP Taman Siswa Bima mengawal fase kritis mulai dari desain perencanaan, pendampingan implementasi lapangan, hingga penguatan tata kelola program di tingkat satuan pendidikan.
Rangkaian intervensi diawali dengan forum penyamaan persepsi yang diselenggarakan di kampus STKIP Taman Siswa Bima pada 10 Maret 2026. Pertemuan multidimensi ini berhasil merumuskan kerangka kerja operasional, termasuk pembentukan tim pelaksana dan pemetaan awal terhadap praktik pembiasaan di sekolah-sekolah sasaran untuk mengidentifikasi gap kompetensi antara nilai moral dan etos kerja.
Analisis data lapangan menunjukkan fenomena ketimpangan orientasi nilai pada jenjang sekolah dasar di Kabupaten Bima. Meskipun aspek moral seperti kedisiplinan dan nilai kebangsaan telah terimplementasi dengan baik, karakter kinerja yang mencakup ketekunan, dedikasi, serta tanggung jawab profesional masih memerlukan intervensi terencana guna meningkatkan daya saing siswa secara jangka panjang.
Untuk memperkuat validitas metode intervensi, tim teknis melaksanakan studi baseline di Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Barat pada 8–10 April 2026. Hasil komparasi praktik baik dari kedua wilayah tersebut diintegrasikan ke dalam rancangan program lokal. Kemudian disosialisasikan kembali pada 18 April 2026 kepada 11 pengawas sekolah dan pimpinan dari 14 sekolah sasaran utama. Tanggal 6 Mei 2026, didukung penuh oleh INOVASI NTB, Dinas Dikbudpora Kabupaten Bima akan melakukan penguatan pengimbasan pada 20 sekolah tambahan.
Kepala Bidang Dikdas Dinas Dikbudpora Kabupaten Bima, Husnul Khatimah, SE., menyampaikan bahwa pihaknya sangat termotivasi melakukan perluasan program ke 20 sekolah tambahan. Namun demikian, ia menegaskan bahwa pelaksanaan sekolah perluasan tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah melalui jajaran pengawas dan pembinaan internal dinas.
Menurutnya, pemilihan sekolah sasaran perluasan didasarkan pada wilayah binaan para pengawas yang sebelumnya terhubung dengan 14 sekolah dampingan yang digerakkan STKIP Taman Siswa Bima. Skema ini dipilih agar proses pengimbasan berjalan lebih cepat, relevan, dan memiliki jalur pendampingan yang jelas.
Beberapa sekolah sasaran tambahan yang mulai bergerak adalah SD IT Al-Farih Woha dengan program "Mori Ma Raso", SDN Inpres Talabiu dengan program "MATUPA", dan SDN Pandai dengan program "KALEA". Sekolah ini telah memulai proses refleksi tingkat sekolah yang didampingi pengawas pembina Ruslin, M.Pd dan Ni Made Sutini, S.Pd.. Proses tersebut dilakukan dengan mengambil pelajaran dari praktik baik yang telah dijalankan di 14 sekolah prioritas karakter tahap awal.
Dalam pendampingannya, Ruslin menekankan bahwa sekolah perlu memulai perubahan dari keberanian melihat kondisi nyata di lapangan. Ia mengaku terus mendorong sekolah-sekolah binaannya melakukan refleksi rutin, mengidentifikasi masalah prioritas, lalu menyusun langkah perbaikan yang realistis dan dapat dijalankan bersama guru.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan karakter tidak lahir dari banyaknya slogan, tetapi dari konsistensi sekolah menemukan persoalan inti seperti disiplin belajar, tanggung jawab siswa, budaya keteladanan guru, serta keterlibatan orang tua.
Secara substansial, program ini mewajibkan sinkronisasi antara perilaku siswa dengan keteladanan orang dewasa di lingkungan sekolah. Siswa diarahkan untuk mengadopsi 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, sementara para pendidik dan tenaga kependidikan dituntut melakukan transformasi peran menjadi model perilaku utama (role model) guna memastikan keberlanjutan habituasi karakter.
Dinas Dikbudpora Kabupaten Bima menegaskan bahwa keterlibatan aktif akademisi dari Program Studi PGSD STKIP Taman Siswa Bima menjadi instrumen penting dalam menjaga objektivitas evaluasi program. Kecepatan respons pemerintah daerah dalam membuka ruang pengimbasan bagi 20 sekolah tambahan dipandang sebagai sinyal positif bagi percepatan transformasi pendidikan karakter di Nusa Tenggara Barat.
Keberhasilan perluasan dari 14 menjadi 34 sekolah ini kini menjadi standar baru dalam kolaborasi pembangunan pendidikan di daerah. Dengan fondasi data yang telah dikumpulkan sejak fase awal, gerakan penguatan karakter di Kabupaten Bima diproyeksikan terus berkembang menjadi model transformasi pendidikan dasar yang berkelanjutan, seiring target pemerintah mencetak generasi yang memiliki keseimbangan antara integritas moral dan produktivitas kerja. Reporter: Fiqry
