Di sebuah lembah yang dipeluk kabut pagi dan hamparan hutan larangan, tersembunyi sebuah kampung yang menolak untuk dilupakan oleh zaman. Namanya Kampung Adat Cikondang, sebuah nama yang lahir dari perpaduan kata Ci (air) dan Kondang (nama pohon), merujuk pada mata air besar yang dulu muncul di bawah naungan pohon kondang, jauh sebelum siapapun dari kita dilahirkan ke dunia ini.
Kampung ini bukan sekadar titik koordinat di peta Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Ia adalah saksi bisu perjalanan peradaban Sunda yang berhasil melewati penjajahan, bencana, dan modernisasi yang datang diam-diam seperti air yang menggerus batu.
Hari itu, Ahad 12 April 2026, embun masih bertengger di dedaunan, saat rombongan kami tiba di sana. Kami berangkat dengan kelompok kecil. Prof Retty Isnendes dan Bu Doktor Isti Gandana selaku pengampu matakuliah, saya, Bu Fenny dan Pak Joni selaku mahasiswa, serta Uda Jefry, sahabat saya yang kami culik dadakan sebagai tour guide.
Sejarah Kampung Adat Cikondang tidak bisa dilepaskan dari sosok dua leluhur yang dipanggil penuh hormat sebagai Uyut Pameget (buyut laki-laki) dan Uyut Istri (buyut perempuan). Menurut penuturan sebagian orang, kampung ini bermula dari seorang wali penyebar Islam yang menyusuri hutan dari arah Cirebon, membuka lahan dari Maruyung hingga ke tempat ini berdiri.
Penulis bertemu Abah Anom, juru kunci sekaligus penerus tradisi dan budaya di Kampung Adat Cikondang. Sebagian orang percaya bahwa nama Cikondang diambil dari kalimat Bahasa Sunda "Cai anu kaluar tina kondang" yang bermakna “air yang mengalir dari pohon kondang”. Namun Abah Anom juga memiliki versi lain. Menurutnya, Cikondang berasal dari kata ‘Ci’ yang berarti ‘air’ dan ‘Kondang’ yg bermakna ‘terkenal’. Sebab zaman dahulu, kampung ini terkenal tidak mau tunduk pada penjajah Belanda.
Kini yang tersisa dari ratusan tahun sejarah itu hanya satu: sebuah Bumi Adat, sebuah rumah adat berarsitektur julang ngapak dengan dinding bambu anyam dan atap ijuk yang berdiri kokoh di atas tiang-tiang kayu, menolak lapuk meski usia sudah lebih dari 370 tahun. Bumi Adat ini adalah keajaiban tersendiri. Menurut Abah Anom, pada sekitar tahun 1942, ketika kobaran api menghanguskan 61 rumah tradisional yang ada di kampung ini, entah karena sabotase Belanda, entah karena sebab lain yang tak pernah terjawab hingga hari ini, hanya rumah tersebutlah yang selamat. Satu dari enam puluh satu. Seperti ada kekuatan yang memilihnya untuk tetap berdiri, menjadi penjaga memori kolektif seluruh kampung. Menjadi penyambung antara leluhur dan garis keturunannya.
Rumah yang Berbicara Dalam Bahasa Simbol
Bagi siapapun yang mengunjungi Bumi Adat Cikondang, maka ia tidak sedang sekadar memasuki sebuah bangunan tua. Ia sedang membaca sebuah teks filosofis yang ditulis bukan dengan tinta, melainkan dengan bambu, kayu, dan ijuk.
Pintu tunggal yang ada di rumah ini bukan kebetulan. Abah Anom menjelaskan bahwa satu pintu bermakna satu kepercayaan hanya kepada Allah SWT. Panjang bangunan 12 meter melambangkan 12 bulan dalam setahun. Lebar 8 meter mewakili sewindu, delapan tahun dalam perhitungan Jawa-Sunda. Lima jendela adalah rukun Islam. Dan sembilan ventilasi jendela adalah representasi Walisongo, para penyebar Islam, salah satunya Syekh Syarif Hidayatullah dari Cirebon yang diyakini menjadi bagian dari garis leluhur kampung ini.
Di dalam Bumi Adat terdapat dua kamar yang tidak sembarangan bisa dimasuki. Pertama, kamar larangan, tempat benda-benda keramat tersimpan. Kedua, goah sebagai kamar penyimpanan beras. Di dinding-dinding rumah tergantung pigura dari anyaman yang memuat silsilah para tetua kampung, sebuah catatan sejarah yang hidup.
Di belakang Bumi Adat, terdapat Hutan Larangan, sebuah kawasan hutan keramat yang pohon-pohonnya hanya boleh diambil untuk keperluan perawatan rumah adat. Di sinilah alam dan adat bernegosiasi dalam cara yang paling harmonis: bukan alam yang diperas untuk kepentingan manusia, melainkan alam yang dijaga karena manusia membutuhkannya. Sebuah konsep ekologi yang jauh melampaui zamannya.
Ekosistem Bumi Adat ini dilengkapi oleh leuit (lumbung padi) di sebelah utara, lisung (penumbuk padi) di sebelah barat, bale paseban sebagai tempat pertemuan, makam keramat Uyut Pameget dan Uyut Istri, hingga tampian (kolam pemandian). Semuanya membentuk satu kesatuan ruang hidup yang utuh dan tidak berlebihan.
Tradisi yang Dihirup Setiap Hari
Kehidupan masyarakat Cikondang berputar dalam ritme yang ditentukan oleh kolenjar, sistem kalender adat mereka sendiri. Bukan kalender Masehi, bukan kalender Hijriah semata, melainkan sebuah sistem perhitungan waktu yang diwariskan turun-temurun dan digunakan untuk menentukan hari-hari penting sepanjang tahun.
Puncak dari seluruh siklus ritual itu adalah Wuku Taun (Muharraman) yang dirayakan setiap 15 Muharram. Namun ia bukan sekadar seremoni satu hari. Sejak 1 Muharram, seluruh kampung sudah bergerak: para ibu menumbuk padi di lesung, hasil tani ditumpuk di bale paseban, doa-doa dipanjatkan. Puncaknya pada 15 Muharram, hingga 500 liter beras dimasak menjadi ratusan tumpeng yang merupakan kombinasi beras ketan, pare gede, dan padi huma, semua dari sawah setempat, dimasak di atas hawu (tungku tradisional) tanpa bahan sintetik apapun.
Sistem tata kelola kampung pun unik: urusan administrasi dipegang oleh RT/RW, sementara juru kunci memegang otoritas spiritual dan adat. Hukum tak tertulis yang disebut pamali mengatur kehidupan sehari-hari, bukan dengan paksaan, melainkan dengan kesadaran kolektif yang tumbuh dari generasi ke generasi. Sistem ini memungkinkan kampung berinteraksi harmonis dengan dunia luar tanpa mengorbankan tradisi.
Potret Nyata: Antara Kagum dan Cemas
Mengunjungi Cikondang adalah pengalaman yang menampar kesadaran dengan cara yang lembut tapi dalam. Di satu sisi, ada rasa kagum yang sulit diungkapkan: bagaimana sebuah komunitas kecil bisa mempertahankan begitu banyak kearifan dalam tekanan zaman yang begitu keras? Di sisi lain, ada kecemasan yang tidak bisa diabaikan.
Sebagai generasi muda, saya memiliki kecemasan sekaligus ketakutan. Pertama, rapuhnya mata rantai regenerasi.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal akademik menyebutkan bahwa penduduk yang tersisa mayoritas adalah generasi tua, sementara generasi muda cenderung meninggalkan kampung untuk pendidikan dan pekerjaan di kota. Ketika satu-satunya pemegang pengetahuan tentang Beluk, tentang kolenjar, tentang cara membaca tanda alam itu pergi, siapa yang akan meneruskan? Ini bukan pertanyaan retoris. Ini adalah alarm. Abah Anom sendiri sudah sepuh, sementara generasi pengganti belum sepenuhnya siap. Kedua, wisata tanpa pengelolaan. Cikondang mulai dikenal.
Wisatawan lokal dari berbagai perguruan tinggi maupun turis-turis mancanegara mulai berdatangan. Ini kabar baik. Tapi juga bisa menjadi kabar buruk jika tidak dikelola dengan baik. Wisata massal yang tidak terkontrol bisa menjadi ancaman paling nyata bagi keautentikan kampung ini, jauh lebih destruktif daripada modernisasi yang masuk pelan-pelan.
Beruntungnya, saat kunjungan, penulis dan rombongan disambut beberapa orang yang mulai mengelola potensi ini. Mereka bercerita bahwa mereka sudah mulai menata manajemen tata Kelola wisata budaya di Kampung Adat Cikondang. Dan saya berharap semoga ini menjadi awal yang baik bagi keberlangsungan komunitas dan adat di sana.
Penutup: Menjaga Api yang Menyala Sendiri
Kampung Adat Cikondang adalah bukti bahwa peradaban sejati tidak selalu diukur dari kemegahan gedung atau kecanggihan teknologi. Ia bisa hadir dalam bentuk bambu yang dianyam dengan sabar, dalam irama tumbukan lesung di pagi hari 1 Muharram, dalam lantunan Beluk yang mengajarkan bahwa nasihat bisa lebih indah bila disampaikan dengan lagu.
Cikondang bukan museum. Ia adalah komunitas yang hidup, bernafas, dan terus bernegosiasi dengan perubahan zaman dengan caranya sendiri, dalam kecepatannya sendiri. Tugas kita adalah memastikan bahwa negosiasi itu berlangsung dengan adil. Bahwa Cikondang tidak bisa dipaksa berubah lebih cepat dari yang sanggup ia tanggung, dan tidak pula dibiarkan sendirian menanggung seluruh beban pelestarian.
Ada pamali yang dipegang teguh di Cikondang: jangan mengubah yang sudah pas, jangan memendekkan yang sudah panjang, jangan menyambung yang sudah pendek. Barangkali itulah pelajaran terbesar yang bisa saya dan rombongan bawa pulang dari Kampung Adat Cikondang bahwa ada hal-hal di dunia ini yang nilainya justru terletak pada ketidakberubahan mereka, dan menjaganya adalah bentuk kemajuan yang paling bermartabat.

